MITRA VALORA NEWS

Selasa, 2018-08-21 17:18 WIB

Bus Tranek Terbakar di Malibou Anai Sore Ini

<p>Bus Tranek Terbakar di Malibou Anai Sore Ini<p>

VALORAnews - Satu unit bus antar kota dalam provinsi (AKDP) merk Tranek Mandiri, terbakar di kawasan Malibou Anai, Selasa (21/8/2018) sekitar pukul...

Inilah Putusan Sela Hakim PN Padang Terhadap Enam Penganiaya Kanit Reskrim

AI Mangindo Kayo | Rabu, 25-04-2018 | 23:01 WIB | 212 klik | Kota Padang
<p>Inilah Putusan Sela Hakim PN Padang Terhadap Enam Penganiaya Kanit Reskrim<p>

Enam orang terdakwa penganiayaan Kanit Reskrim Polsekta Pauh, tengah menjalani persidangan di PN Padang, kemarin. (istimewa)

VALORAnews - Mejelis hakim Pengadilan Negeri (PN) kelas IA Padang, menolak eksepsi terdakwa Andri Saputra dan lima rekannya. Pasalnya enam orang terdakwa tersebut diduga telah melakukan penganiayaan terhadap Ipda Syafwal beberapa waktu lalu di kecamatan Pauh, Kota Padang.

Mejelis hakim, R Ary Muladi menyebutkan pihaknya menolak terhadap keberatan Penasihat Hukum terdakwa yang menyebutkan dakwaan JPU tidak cermat, tidak jelas dan lengkap.

"Memutuskan untuk menolak keberatan terdakwa terhadap dakwaan JPU serta memerintahkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) untuk menghadirkan saksi," kata hakim ketua ketika membacakan amar putusan sela.


JPU Syamsul Bahri Cs dari Kejaksaan Negeri Padang untuk menghadirkan saksi dalam sidang selanjutnya yang ditunda Rabu (2/5/2018) pekan depan. "Kita tunda dan buka lagi sidang pada pekan depan," ujarnya.

Sementara itu, terkait permintaan PH para terdakwa, Roni Saputra Cs untuk penangguhan penahanan, belum diputuskan majelis hakim, apakah ditolak atau dikabulkan.

Sebagaimana dalam dakwaan, terdakwa Andri Saputra bersama dengan terdakwa lainnya yakni Adrianus, Utra Donal, Idrisman, Mardison dan Roni Marta didakwa telah melakukan penganiayaan terhadap Ipda Syafwal, Minggu (7/1/2018) sekitar pukul 02.00 WIB di kawasan Pisang, Kecamatan Pauh, Kota Padang.

Hal itu terjadi, dikarenakan korban bersama rekannya dari kepolisan Polsek Pauh Kota Padang akan melakukan penangkapan terhadap pelaku penganiayaan M Danil.

Polisi yang mendapati keberadan Danil dari informasi Firdaus (korban penganiyaan) yang melapor ke Polsek Pauh mendatangi lokasi keberadaan Danil di sebuah tempat pesta.

Danil yang hendak dimintakan keterangannya dan akan dibawa ke Polsek Pauh menolak serta berupaya untuk melarikan diri. Syafwal dan rekannya melakukan pengejaran. Namun Naas, rekan Danil ikut mengejar kepolisian yang meneriaki Kanit Reskim Polsek Pauh itu maling. Sehingga masa melakukan penganiayaan terhadap korban.

Dari hasil penyelidikan kepolsian, akhirnya ditangkap Andri Saputra pada Rabu (17/1/2018) dan menangkap pelaku lainnya.

Terkait hasil visum dari RS Semen Padang pada Selasa (23/1/2018) terhadap korban Syafwal. Berdasarkan pemeriksaan korban mengalami luka berat, ditemukan luka terbuka pada puncak kepala bagian kiri korban, patah tulang tengkorak, pendarahan di atas selaput keras otak, patah gigi dan memar di tubuh.

Kepada para terdakwa dijerat pasal 351 ayat (1) KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, maksimal hukuman lima tahun kurungan.

Sementara itu, atas putusan sela Majelis hakim tersebut, PH para terdakwa, Roni Cs menerima keputusan hukim tersebut. Namun, hingga saat ini pihaknya menduga banyak keganjilan dalam proses penangkapan terhadap para terdakwa tersebut.

"Proses penangkapan itu tidak melalui proses penyelidikan. Terhadap penangkapan Danil kala itu, wajar ada anggapan bukan polisi. Karena, petugas itu menggunakan pakaian biasa dan tanpa menggunakan surat tugas dan tentunya ini menyalahi aturan UU yang berlaku," imbuhnya.

Menurutnya, terkait pengungkapan keadilan, proses penangkapan juga menjadi bagian yang sangat penting dan fakta tidak dapat dibantahkan. "Berita acara kepolisian tidak sesuai prosedur, dan tentu kami mengajukan kebertan dalam hal ini," imbuhnya.

Dikatakannya, dalam KUHAP surat dakwaan yang tidak jelas, cermat dan tidak tepat maka batal secara hukum.

"Makanya kami mengajukan keberatan dengan sejumlah bukti yang ada, dan tentu atas keputusan ini kami menghormatinya, nanti fakta dipersidangan akan terungkap bagaimana yang semestinya dan kami meminta korban untuk dapat bersaksi di peradilan ini nantinya," terang Roni.

Roni juga mengungkapkan, terhadap terdakwa ketika berada di Polresta juga mengalami perilaku tidak manusiawi dari kepolisian.

"Klien kami dipaksa mengakui perbuatan yang sebenarnya tidak mereka lakukan," pungkasnya. (kyo)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar

Berita Metro

Berita Kota Padang