MITRA VALORA NEWS

Jumat, 2018-05-25 17:21 WIB

Amnasmen Terpilih Kembali jadi Ketua KPU Sumbar

<p>Amnasmen Terpilih Kembali jadi Ketua KPU Sumbar<p>

VALORAnews - Amnasmen terpilih kembali sebagai Ketua KPU Sumbar periode 2018-2023. Selain itu, Amnasmen yang jadi ketua untuk periode kedua kalinya...

Pertalite dan Solar non Subsidi Pemicu Inflasi Kelompok Administered Price

AI Mangindo Kayo | Senin, 07-05-2018 | 18:00 WIB | 118 klik | Provinsi Sumatera Barat
<p>Pertalite dan Solar non Subsidi Pemicu Inflasi Kelompok Administered Price<p>

Ilustrasi.

VALORAnews -- Tekanan inflasi Sumbar menurun pada April 2018. Pascamengalami inflasi sebesar 0,31 % (mtm) pada Maret 2018, laju Indeks Harga Konsumen (IHK) Sumatera Barat kembali melambat dengan mencatat inflasi sebesar 0,02 % (mtm) pada April 2018.

"Bila dihitung secara tahunan, pergerakan harga pada April 2018 tercatat sebesar 2,66% (yoy) atau naik dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 2,33% (yoy). Hal ini sejalan dengan pola seasonal inflasi di April yang cenderung meningkat," ungkap Wakil Ketua Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumbar, Endy Owi Tjahjono dalam siaran persnya, Senin (7/5/2018)

Sedangkan berdasarkan kalender tahun berjalan, terangnya, laju inflasi Sumatera Barat sampai dengan April 2018 mencatat inflasi sebesar 0,69% (ytd). Sementara itu, 2 (dua) kota sampling inflasi yakni Padang dan Bukittinggi, mengalami inflasi bulanan dengan laju masing-masing sebesar 0,01 % (mtm) dan 0,12 % (mtm). Laju inflasi tahun berjalan


"Untuk Kota Padang dan Bukittinggi sampai dengan April 2018, masing-masing tercatat sebesar 0,66% (ytd) dan 0,93% (ytd)," urainya.

Secara disagregasi, tekanan inflasi April 2018 berasal dari kenaikan harga kelompok administered price yang mengalami laju inflasi tertinggi yang disusul oleh kelompok inti. Perkembangan harga kelompok administered price mencatat inflasi sebesar 0,39% (mtm) pada April 2018, naik dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,29% (mtm).

Inflasi kelompok ini terutama berasal dari bensin dan rokok putih dengan laju inflasi masing-masing sebesar 0,98% (mtm) dan 1,71 % (mtm). Kenaikan harga BBM nonsubsidi, khususnya Pertalite dan Solar non subsidi serta terbatasnya persediaan premium di daerah, disinyalir jadi penyebab inflasi pada kelompok ini. Sementara itu, naiknya harga rokok putih disebabkan penyesuaian harga gradual yang dilakukan oleh penjual/pengusaha untuk mengakomodasi kenaikan tarif cukai rokok tahun 2018.

Sementara itu, pada April 2018 kelompok inti (core) mengalami inflasi sebesar 0,02% (mtm), menurun dibandingkan inflasi Maret 2018 yang tercatat pada angka 0,29% (mtm). Ditinjau dari komoditasnya, tekanan inflasi kelompok ini berasal dari kenaikan harga mobil dan teh manis yang masing-masing mencatat inflasi sebesar 0,69% (mtm) dan 7,72% (mtm).

Pada kelompok volatile food, laju inflasi kelompok ini menurun tajam dari 0,37% (mtm) pada Maret 2018 menjadi deflasi sebesar 0,33% (mtm) pada April 2018. Deflasi kelompok ini berasal dari turunnya harga komoditas cabai merah, jengkol, dan daging ayam ras dengan laju deflasi masing-masing sebesar 7,75% (mtm); 2,43% (mtm); dan 0,83% (mtm) seiring pulihnya pasokan di pasar.

Laju deflasi tertahan oleh kenaikan harga bawang merah dan bawang putih yang patut diwaspadai dengan laju inflasi masing-masing sebesar 18,32% (mtm) dan 17,79% (mtm). Kenaikan harga bawang merah diakibatkan berkurangnya pasokan dari daerah sentra bawang Alahan Panjang, Kabupaten Solok. dipengaruhi oleh distribusi yang kurang lancar serta dipicu oleh distributor yang datang dari luar daerah, seperti Jawa yang membeli bawang langsung ke petani atau didistribusikan ke luar daerah.

Mencermati perkembangan terkini, pergerakan IHK Sumatera Barat perlu diantisipasi karena tekanan inflasi yang lebih tinggi akan terjadi pada Mei 2018. Penyebab tekanan inflasi terindikasi disebabkan oleh meningkatnya permintaan di Ramadhan serta kemungkinan masih adanya dampak lanjutan dari

penyesuaian harga BBM nonsubsidi," terangnya.

Melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap dollar AS serta kemungkinan naiknya harga emas dan minyak dunia akibat turbulensi politik maupun kecenderungan ketidakpastian ekonomi global, menurut Endi, juga berpotensi turut memberikan tekanan pada inflasi di Mei 2018.

Curah hujan yang mulai berkurang dibandingkan bulan-bulan sebelumnya diharapkan dapat mengurangi risiko gagal panen dan gangguan distribusi bahan pangan strategis (khususnya tanaman bahan makanan dan hortikultura) dari produsen ke konsumen. Kondisi tersebut didukung oleh prakiraan BKMG Provinsi Sumatera Barat bahwa intensitas curah hujan pada Mei 2018 berada pada kisaran menengah. (vry)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar

Berita Ranah

Berita Provinsi Sumatera Barat