MITRA VALORA NEWS

Senin, 2018-08-20 21:56 WIB

Ferizal Ridwan Hadiri Peringatan Tahun Baru 1955 Caka Sunda

<p>Ferizal Ridwan Hadiri Peringatan Tahun Baru 1955 Caka Sunda<p>

VALORAnews - Wakil Bupati limapuluh Kota, Ferizal Ridwan (Sultan Purnama Agung)bersama Raja, Ratu, Sultan dan pemangku gelar adat yang tergabung...

Komnas HAM Telisik Dugaan Kekerasan oleh Aparat ke Warga Simpang Tonang

AI Mangindo Kayo | Sabtu, 26-05-2018 | 16:45 WIB | 291 klik | Kab. Pasaman
<p>Komnas HAM Telisik Dugaan Kekerasan oleh Aparat ke Warga Simpang Tonang<p>

Rombongan Komnas HAM perwakilan Sumbar, berdialog dengan warga Simpang Tonang, Pasaman, Jumat (25/5/2018), sekitar pukul 10.30 WIB. Kunjungan Komnas HAM ini terkait adanya laporan dugaan kekarasan aparat keamanan dengan masyarakat terkait aktivitas tambang di kawasan itu. (istimewa)

VALORAnews -- Komnas HAM Perwakilan Sumbar mengunjungi warga Simpang Tonang, Jumat (25/5/2018), sekitar pukul 10.30 WIB. Lima menit berselang kedatangan rombongan, ratusan masyarakat langsung berkumpul di kantor KAN Simpang Tonang.

Bagi masyarakat, kedatangan Komnas HAM adalah obat atas duka dan derita yang mereka alami, setelah sebelumnya diperlakukan secara tidak manusiawi oleh sejumlah oknum. Pada pertemuan tersebut, perwakilan korban menyampaikan perlakuan tidak manusiawi, ditangkap, dipukul dengan senjata, ditendang, direndam, dikencingi, ditelanjangi kemudian diikat di atas mobil, dituduh sebagai teroris dan ISIS.

"Kami dipaksa untuk mendukung tambang. Dipaksa untuk menyebut beberapa nama masyarakat sebagai provokator dan dalang aksi penolakan masyarakat atas PT IJM. Jika tidak mengikuti, kami diancam untuk ditembak," ungkap salah seorang warga yang identitasnya diminta untuk tidak disebutkan, saat berdialog dengan Komnas HAM.


"Kami berharap, bapak-bapak dan ibu-ibu dari Komnas HAM membantu kami untuk mendapatkan keadilan," tambahnya.

Sejumlah ibu-ibu yang hadir dalam pertemuan itu juga menyampaikan, melihat langsung sejumlah warga dipukul sampai pingsan oleh petugas berseragam. "Saat saya mau menolong, saya justru dibentak disuruh masuk kedalam rumah. Tapi saya tidak tega, saya tetap keluar, dan mengatakan dia sudah mati, bapak harus tanggung jawab, kemudian oknum tersebut berkata : itu bukan tangggung jawab kami, itu resiko dia sendiri," urai sang ibu yang juga meminta namanya tak disebutkan.

Sementara itu, Tokoh Adat Simpang Tonang, H Tarmizan menyampaikan, kedatangan Komnas HAM mengobati hati warga yang luka. Dia menyebut, telah beberapa bulan terakhir, warga jadi tidak tenang. "Kami tidak pernah mengizinkan, tapi tambang masuk begitu saja ke kampung kami. Pemerintah tidak mau mendengarkan suara kami, kami tidak tahu, harus kemana lagi kami mengadu," terangnya.

"Tiba-tiba, kemarin, warga kami, dipukuli dan diperlakukan tidak manusiawi. Kami berharap dan meminta, agar Komnas HAM membantu mendorong pemerintah untuk mencabut Izin Tambang PT IJM," harapnya.

Dia memastikan, masyarakat Simpang Tonang sudah sepakat, menolak tambang tersebut. H Tarmizi juga meminta ditegakkannya keadilan bagi masyarakat Simpang Tonang. "Pelaku yang memukul, menendang, menginjak-injak masyarakat, harus bertanggungjawab. Masyarakat kami bukan teroris, dan bukan ISIS," terangnya.

"Kami warga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), kami cinta negara ini dan kami tidak akan keluar dari negara ini," tambahnya.

H Tarmizi juga meminta tanggung jawab pihak-pihak terkait, agar mengganti kerugian materil dan immateril yang dialami oleh masyarakat Simpang Tonang.

Perwakilan Komnas HAM Sumbar, Firdaus menyampaikan, sengaja datang mendadak karena sebelumnya telah mendapat informasi, terjadi bentrok antara masyarakat Simpang Tonang yang menolak tambang PT IJM dengan Aparat Kemanan (TNI-Polri).

"Bentrok tersebut menyebabkan banyak korban di masyarakat, kami ingin memastikan, apa sebenarnya yang terjadi, setelah kami dengar dan lihat langsung, ternyata memang benar, di antara masyarakat ada yang luka-luka," terangnya.

Semua informasi yang disampaikan, terang Firdaus, akan dipelajari dan ditindaklanjuti sesuai aturan. "Komnas HAM Perwakilan Sumbar juga telah berkoordinasi dengan Komnas HAM Pusat di Jakarta. Untuk itu, kami meminta masyarakat untuk menjaga situasi agar tetap kondusif, jangan sampai terjadi hal-hal yang dapat merugikan kita semua," harap Firdaus.

Dikatakan, setelah mendengar laporan masyarakat dan korban, Komnas HAM juga akan melakukan pertemuan dengan Pemkab Pasaman, Dandim dan Polres Pasaman di Lubuk Sikaping. "Kami akan sampaikan ke pihak-pihak terkait, untuk dapat sama-sama menahan diri dan menyelesaikan persoalan ini dengan cara-cara persuasif. Selain itu, yang pasti, semua masyarakat berhak atas rasa aman," tegasnya.

Empat orang tim Komnas HAM dilepas masyarakat dengan do'a, masyarakat mengharapkan pertemuan di Lubuk Sikaping dapat menemukan titik penyelesaian kasus yang terjadi, hak-hak dan keadilan berpihak kepada masyarakat Simpang Tonang. (rls/vry)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar

Berita Ranah