MITRA VALORA NEWS

Minggu, 2018-07-22 21:58 WIB

Warga Tunggu Taji Tim Saber Pungli Solsel

<p>Warga Tunggu Taji Tim Saber Pungli Solsel<p>

VALORAnews - Sejak 24 Januari 2017, Kabupaten Solok Selatan (Solsel) resmi memiliki Tim Sapu Bersih Pungutan Liar (Saber Pungli). Namun, mendekati...

Libur Lebaran Jaga Inflasi Sumbar, Ini Alasannya

AI Mangindo Kayo | Selasa, 03-07-2018 | 19:34 WIB | 66 klik | Kab. Lima Puluh Kota
<p>Libur Lebaran Jaga Inflasi Sumbar, Ini Alasannya<p>

Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno didampingi Endy Dwi Tjahjono (Wakil Ketua TPID Sumbar) dan sejumlah pejabat terkait, memberikan keterangan pers seputar kebijakan menyambut lebaran 1439 H lalu di kantor BI Sumbar, beberapa waktu lalu. (humas)

VALORAnews - Pergerakan Indeks Harga Konsumen (IHK) Sumatera Barat periode lebaran tahun 2018 terpantau terkendali, bahkan realisasi inflasi periode ini lebih rendah dibandingkan rata-rata inflasi lebaran 3 tahun terakhir (2015-2017) sebesar 1,33% (mtm).

"Laju inflasi bulanan pada Juni 2018 tercatat sebesar 0,37% (mtm), atau relatif stabil dibandingkan Mei 2018 sebesar 0,36% (mtm). Besaran inflasi tersebut dibentuk dari 2 kota sampling inflasi yakni Kota Padang dan Bukittinggi yang masing-masing mencatat inflasi sebesar 0,39% (mtm) dan 0,20% (mtm)," ungkap Wakil Ketua Tim Pengendalian Inflasi Daerah Sumbar, Endy Dwi Tjahjono dalam siaran pers yang diterima, Selasa (3/7/2018).

Dikatakan Endy, laju inflasi Sumatera Barat berada di bawah pergerakan harga nasional yang mencatat inflasi sebesar 0,59% (mtm) pada Juni 2018. Secara tahunan, inflasi Sumatera Barat pada Juni 2018 sebesar 3,17% (yoy) atau sedikit lebih tinggi dibandingkan laju inflasi nasional sebesar 3,12 % (yoy).


Sementara itu, laju inflasi Sumatera Barat berdasarkan kalender tahun berjalan Januari - Juni 2018 mencapai 1,43% (ytd) atau lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 1,90% (ytd). Dengan realisasi inflasi bulanan tersebut, terangnya, Sumatera Barat menduduki posisi terendah ke-4 dari seluruh provinsi yang mengalami inflasi secara nasional.

Yakni setelah Sumatera Utara (0,04%, mtm); Riau (0,12%, mtm); dan Bali (0,32%, mtm). Sedangkan Sulawesi Tenggara (1,99%, mtm) dan Sulawesi Tengah (1,89%, mtm) terpantau sebagai provinsi dengan inflasi tertinggi pertama dan kedua secara nasional.

Tekanan inflasi Sumatera Barat pada Juni 2018 disumbang semua kelompok inflasi dengan laju inflasi tertinggi berasal dari kelompok administered prices khususnya akibat kenaikan jasa transportasi. Kelompok barang yang diatur pemerintah tercatat mengalami inflasi sebesar 0,64% (mtm), naik dibandingkan periode Mei 2018 sebesar 0,06% (mtm).

"Tradisi "Pulang Basamo" saat mudik lebaran diiringi dengan masuknya periode liburan sekolah berdampak pada kenaikan permintaan jasa transportasi angkutan udara dan darat. Kondisi tersebut tercermin dari kenaikan tarif angkutan udara, tarif angkutan antar kota memberikan sumbangan inflasi bulanan masing-masing sebesar 0,06% terhadap keseluruhan inflasi Sumatera Barat," terang Endy.

Selain itu, penyesuaian tarif cukai tembakau pada tahun 2018 secara gradual masih dilakukan oleh pelaku industri/usaha seiring dengan terjadinya kenaikan harga pada beberapa jenis komoditas rokok, yakni rokok kretek filter dan rokok kretek.

Perkembangan harga kelompok inti secara perlahan mengalami peningkatan inflasi namun masih berada pada level moderat. Laju inflasi kelompok inti meningkat dari 0,16% (mtm) pada Mei 2018 menjadi 0,20% (mtm) pada Juni 2018.

Faktor meningkatnya permintaan saat lebaran serta diiringi dengan peningkatan daya beli seiring dengan pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) mendorong kenaikan harga komoditas kelompok ini. Lebih rinci, inflasi kelompok ini terutama disumbang oleh komoditas nasi dengan lauk, dendeng, dan ayam goreng dengan sumbangan inflasi bulanan masing-masing sebesar 0,02% (mtm).

Selain dari jenis makanan jadi, komoditas penyumbang inflasi kelompok ini juga berasal dari sewa kendaraan pribadi/rental dan tarif kendaraan travel dengan sumbangan inflasi sebesar 0,02 % (mtm) dan 0,01 % (mtm).

Sementara itu, laju inflasi kelompok volatile food terpantau melambat dengan masuknya periode panen dari sentra produksi serta imbas dari sejumlah upaya pengendalian harga Tim Pengendalian Inflasi di Sumatera Barat.

Laju inflasi kelompok volatile food pada Juni tercatat mengalami inflasi sebesar 0,44% (mtm) atau turun dibandingkan bulan Mei 2018 sebesar 0,98% (mtm). Secara spesifik, tekanan inflasi kelompok ini terutama berasal dari kenaikan harga komoditas jengkol dan petai dengan sumbangan inflasi bulan masing-masing sebesar 0,07% (mtm) dan 0,04% (mtm) terhadap keseluruhan inflasi di Sumatera Barat.

Tekanan inflasi kelompok ini tertahan lebih lanjut seiring dengan deflasi dari sejumlah bahan pangan strategis yakni cabai merah, bawang merah, bawang putih, daging ayam ras, telur ayam ras, dan daging sapi. (vry)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar

Berita Kab. Lima Puluh Kota