MITRA VALORA NEWS

Selasa, 2018-08-21 17:18 WIB

Bus Tranek Terbakar di Malibou Anai Sore Ini

<p>Bus Tranek Terbakar di Malibou Anai Sore Ini<p>

VALORAnews - Satu unit bus antar kota dalam provinsi (AKDP) merk Tranek Mandiri, terbakar di kawasan Malibou Anai, Selasa (21/8/2018) sekitar pukul...

Alex Indra Lukman Nilai Pemprov Sumbar Lalai Sosialisasikan Kenaikan Tarif Pajak BBM Nonsubsidi

AI Mangindo Kayo | Selasa, 17-07-2018 | 12:59 WIB | 124 klik | Provinsi Sumatera Barat
<p>Alex Indra Lukman Nilai Pemprov Sumbar Lalai Sosialisasikan Kenaikan Tarif Pajak BBM Nonsubsidi<p>

Ketua DPD PDI Perjuangan Sumbar, Alex Indra Lukman bersama Presiden RI, Joko Widodo. (istimewa)

VALORAnews - Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi medio 2018 ini, hanya terjadi di Sumatera Barat. Kenaikan itu disebabkan terjadinya revisi Perda No 1 Tahun 2012 tentang Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor. Semula pajak BBM sebesar 5 persen. Setelah revisi Perda jadi 7,5 persen.

"Pemprov Sumbar wajib menyosialisasikan perubahan tarif dasar pajak BBM sesuai revisi Perda 1/2012. Jangan main naikan saja yang akan berimplikasi pada keresahan masyarakat," terang Anggota DPR RI, Alex Indra Lukman di Padang, Selasa (17/7/2018).

Alex yang juga ketua PDI Perjuangan Sumbar ini menyayangkan, lambatnya sosialisasi revisi Perda 1/2012 ini oleh Pemprov. Dimana, revisi Perda ini telah disepakati bersama DPRD Sumbar pada rapat paripurna 15 Februari 2018 lalu.


Tak sigapnya anak buah gubernur menyosialisasikan revisi Perda ini, berimplikasi pada terlanjurnya muncul stigma negatif masyarakat Sumbar ke pemerintah pusat, yang mencap era pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla, tak pro rakyat karena terus saja menaikan tarif BBM.

"Walau harga di Sumbar ini bisa saja berubah sesuai tarif dasar yang ditetapkan pertamina, hal itu tak mengurangi keresahan masyarakat. Apalagi, sekarang ini tahun politik," terang Alex yang duduk di Komisi 5 DPR RI itu.

Alex menyadari, revisi Perda ini merupakan upaya Pemprov Sumbar menaikan pendapatan asli daerah. Selain itu, yang terdampak kenaikan ini juga masyarakat kelas menengah ke atas.

"Setiap perubahan kebijakan, wajib hukumnya disosialsasikan ke masyarakat. Jangan mentang-mentang yang disasar masyarakat kelas menengah ke atas, lalu tak penting disosialisasikan," tegas Alex yang kembali maju ke DPR RI dari Dapil Sumbar 1 pada pemilu 2019 ini.

Pajak bahan bakar kendaraan bernotor ini merupakan salah satu sumber utama pemasukan bagi daerah. Pada 2017, dengan besaran pajak lima persen, pundi-pundi kas daerah berisi sebesar Rp344,256 miliar.

Dengan naik jadi 7,5 persen, diperkirakan pendapatan ikut terdongkrak naik jadi Rp407,909 miliar, terjadi pertambahan pemasukan sekitar Rp66,9 miliar lagi.

Kenaikan tarif pajak ini akan membuat harga Pertalite di tingkat konsumen dari semula Rp7.600 per liter jadi Rp7.800 per liter.

Kemudian, Pertamax dari tarif semula Rp8.900 per liter bakal menjadi Rp9.100 per liter. Pertamax Turbo dengan harga Rp10.100 per liter bisa menjadi Rp10.350 perliter.

Sementara, Dexlite dengan harga Rp8.100 per liter bisa menjadi Rp8.300 per liter. Selanjutnya,

Sedangkan Pertamina Dex dengan harga saat ini Rp10.000 per liter bisa naik menjadi Rp10.300 per liter. (rls/kyo)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar

Berita Provinsi Sumatera Barat