MITRA VALORA NEWS

Kamis, 2018-10-18 18:16 WIB

Ilusi Band Ajak Berperilaku Jujur Lewat Rilis Lagu Bohong

<p>Ilusi Band Ajak Berperilaku Jujur Lewat Rilis Lagu Bohong<p>

VALORAnews - Seperti kerang memendam mutiara, akhirnya Ilusi Band merilis lagu ke tiga berjudul Bohong. Lagu ini adalah lagu pertama ditulis Ilusi...

Ini Analisis Pakar Geologi tentang 14 Kali Gempa Beruntun di Mentawai

AI Mangindo Kayo | Jumat, 27-07-2018 | 10:41 WIB | 371 klik | Provinsi Sumatera Barat
<p>Ini Analisis Pakar Geologi tentang 14 Kali Gempa Beruntun di Mentawai<p>

Prof Badrul Mustafa di kapal JAMSTEC (pada Februari 2005), sewaktu penelitian setelah gempa/tsunami Aceh, untuk melihat deformasi lantai samudera akibat gempa yang menimbulkan tsunami 26 Desember 2004 lalu. Di kapal, ikut antara lain Nugroho (Geoteknologi LIPI), Dr Safri Burhanuddin (geologi), Dr. yusuf Surachman (geofisika-BPPT). (istimewa)

VALORAnews -- Kawasan di sepanjang Kabupaten Kepulauan Mentawai, memiliki dua mekanisme penyebab gempa yakni sesar geser (strike-slip) dan Megathrust. Masing-masing punya akumulasi energi, karena ada dua pergerakan batuan di daerah ini.

Demikian dikatakan pakar geologi dari Unand, Prof Badrul Mustafa pada diskusi grup whatsapp, sekaitan dengan terjadinya 14 kali goyangan lindu di Kabupaten Mentawai sepanjang Kamis (26/7/2018) sore hingga Jumat (27/7/2018).

"Analisa mekanisme fokus (bagian dari ilmu seismologi) yang dilaporkan BMKG, bukan Megathrust. Jika dilihat kedalaman pusat gempa yang hanya 10 km, juga menunjukkan bukan di zona subduksi. Jika subduksi, kedalamannya di titik tersebut harusnya paling kurang 30 km," ungkap Prof Badrul menganalisis 14 kali gempa, yang semua kekuatannya kurang dari 5 skala richter (SR) itu.


Menurut Prof Badrul, untuk mengetahui lebih detail, apa yang terjadi di tempat ini (titik yang terjadi 14 kali gempa-red), diperlukan penelitian Seismik Marin. Sebab, bisa saja ada patahan geser yang bukan sejajar dengan Pulau Sumatera, tapi justru tegak lurus terhadap Pulau Sumatera.

"Kalau itu ada (patahan geser yang tegak lurus Pulau Sumatera-red) dan masuk ke Kota Padang, maka itu bisa berisiko," kata Prof Badrul menganalisis.

Dikatakan, Sesar Mentawai bermula dari kompleks Krakatau di selat Sunda. Ia kemudian terus ke sisi timur Pulau Enggano di Bengkulu, lalu terus ke sisi timur kepulauan Mentawai (Pagai Selatan, Pagai Utara, Sipora, Siberut).

Selanjutnya, ia terus ke kepulauan Nias. "Hanya di Pulau Nias, sesar ini masuk ke daratan," terangnya. "Keluar dari Pulau Nias, sesar ini bercabang dua. Yang satu terus ke Pulau Simeulue, satunya lagi bersambung dengan sesar Batee yang terus masuk ke Pulau Sumatra," tambahnya.

"Jadi, sesar Mentawai ini di Sumatera Barat, In Syaa Allah tidak berbahaya, karena tidak melewati daratan. Sesar mendatar berbahaya, jika ada di daratan atau pulau, seperti sesar Semangko," tuturnya.

Mengenai aktivitas sesar Mentawai ini, ungkap Prof Badrul, Dr Hery Haryono dari Geoteknologi LIPI, pada tahun 1990 sudah menulis berdasarkan data yang didapat dari joint research Indonesia-Perancis. Dia menyimpulkan, aktivitas kegempaannya tidak terlalu banyak.

"Hanya di antara Enggano dan Pagai Selatan ada sedikit sesar yang aktif. Selebihnya, merupakan sesar yang sudah sangat lama tidak aktif," ungkap Prof Badrul.

"Kami kemudian melanjutkan penelitian Dr Hery Haryono ini. Kami juga menemukan hal sama, mulai dari Mentawai sampai Pulau Simeulue. Jadi, di Mentawai ini tetap yang berbahaya itu adalah sesar Megathrustnya," tukas Badrul. (kyo)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar