MITRA VALORA NEWS

Komponis Muda Sumbar Unjuk Karya di Festival Gamelan Internasional

AI Mangindo Kayo | Rabu, 15-08-2018 | 18:25 WIB | 1333 klik | Kota Padang Panjang
<p>Komponis Muda Sumbar Unjuk Karya di Festival Gamelan Internasional<p>

Komponis musik gamelan alumnus ISI Padangpanjang, Hario Efenur. (istimewa)

VALORAnews - Intensitas berkarya setelah kenyang menempa diri di ISI Padangpanjang, tampaknya jadi hal penting bagi seorang Hario Efenur. Bagi lelaki asal Lasi (sebuah kawasan di kaki Marapi-red) ini, intensitas itu menjadi harga mati karena eksistensi hanya akan dapat dibangun dari sana.

Begitu menyelesaikan pendidikan pascasarjananya, Uncu, demikian dia karib disapa, makin tekun berkarya. Di karya non akademik ketiganya, apa yang disemai dapat dituai. Ia didaulat jadi salah satu composer yang terpilih untuk menampilkan karyanya di Gamelan Internasional Festival di Solo yang berlangsung 9-16 Agustus lalu.

"Alhamdulillah, saya merasa kesempatan besar untuk tampil di Festival tersebut tak terlepas dari rekomendasi dandukungan dari banyak pihak. Karena itu saya membawa karya yang benar-benar matang agar kepercayaan yang diberikan kepada saya tidak sia-sia," sebut komponis berambut keriting ini.


Berbeda dari garapan lain yang tampil pada ajang tersebut, Uncu membawa konsep homecoming pada musik logam. Hal itu ia ejawantahkan lewat pemilihan instrumen canang pada karya yang ia beri judul "dialogam" ini. Karya ini disiapkan selama 3 bulan, mulai dari riset hingga penggarapan bagian per bagiannya.

Menurut Uncu, dalam karya ini ia mengedepankan ptespektifnya sendiri terhadap gamelan. "Bagi saya gamelan punya toleransi ruang dan waktu secara prinsip permainan. Bunyi yang low, midle dan high bisa idengar dengan baik oleh pendengar karena masing-masingnya saling memberi ruang satu dengan yang lain," jelas Uncu.

Kaitannya secara filosofi budaya Minang, menurut Uncu, toleransi tersebutlah yang membuat orang Minang dapat berbaur dengan baik dengan penduduk local manakala mereka merantau. "Seperti halnya juga seni music Canang Tigo dari Baso yang sebenarnya bisa berinteraksi dengan baik dengan semua jenis instrument karena pola permainan hocketing yang dimilikinya," sebut Uncu.

Dari pengalamannya berpentas bersama para komponis besar nasional, Uncu merasakan bahwa saat ini perhatian terhadap karya-karay para komponis muda semakin baik. Terutama untuk Minang, khususnya para alumni dan civitas akademika ISI Padangpanjang, apa yang berlangsung di Festival Gamelan Internasional waktu itu telah menjadi pembutkian atas pengakuan masyarakat music Indonesia terhadap kualitas karya mereka.

"Selain saya, kan ada juga kakanda Taufik Adam, para senior di Talago Buni dan sebuah penghargaan atas dedikasi berkarya untuk bapak Elizar. Tentu ini membanggakan kita," katanya.

Terkait dengan reaksi penonton, di antara 47 penampil dalam negeri dan 19 dari luar negeri, Uncu merasakan karyanya termasuk salah satu yang mendapat perhatian. Karena, cukup berbeda dari yang lain. Selain itu, ia juga bersyukur mendapat banyak pendokumentasian.

"Saya berharap dokumentasi yang dibuat oleh para penonton tersebut dapat menjadi referensi bagi mereka untuk mengingat atau mengenal saya lewat karya saya," katanya.

Terkiat dengan kesempatan yang ia peroleh pada Festival Gamelan ini, Uncu merasa hal itu juga didukung oleh giatnya ia mempublikasikan karya lewat media sosial.

"Saat ini media sosial sangat berperan dalam penyebarluasan karya-karya saya. Selain jejaring yang saya miliki, media sosial saya yakini juga sangat efektif untuk menarik perhatian pengelola festival," katanya. (rls)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar