MITRA VALORA NEWS

Ansor Padangpariaman Minta Dibangun Tugu Perjuangan di Surau Batu Sintuak, Ini Alasannya

AI Mangindo Kayo | Jumat, 17-08-2018 | 18:04 WIB | 156 klik | Kab. Padang Pariaman
<p>Ansor Padangpariaman Minta Dibangun Tugu Perjuangan di Surau Batu Sintuak, Ini Alasannya<p>

Ketua Ansor Padangpariaman, Zeki Ali Wardhana bersama kader dan mahasiswa KKN Unitas, foto bersama usai upacara HUT RI di Korong Simpang Empat, Nagari Sintuak Kecamatan Sintuak Toboh Gadang, Kabupaten Padangpariaman. (humas)

VALORAnews - Gerakan Pemuda Ansor Padangpariaman menilai, sudah sepatutnya Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman mendirikan tugu peringatan peristiwa Surau Batu Sintuak yang menewaskan 40 orang anggota TRI/TNI, pemuda pejuang kemerdekaan dan penduduk dari Nagari Sintuak Tobohgadang, Pakandangan, Kototinggi, Pauhkamba, Bintungantinggi dan sekitarnya.

"Di lokasi itu tempat korban penembakan oleh tentara Belanda pada Selasa, 7 Juni 1949 silam," ungkap Ketua Gerakan Pemuda Ansor Padangpariaman, Zeki Aliwardana, Jumat (18/8/2018) saat menjadi inspektur upacara peringatan HUT RI ke-73 di Korong Simpang Empat, Nagari Sintuak Kecamatan Sintuak Toboh Gadang, Kabupaten Padangpariaman.

Upacara dilaksanakan persis di lokasi pembunuhan keji yang dilakukan tentara Belanda. Upacara ini dihadiri Walikorong Simpang Tigo, Satria Naldo, kader Ansor, tokoh masyarakat Sintuak, mahasiswa KKN Unitas dan masyarakat sekitarnya.


Zeki Aliwardana prihatin, tidak adanya kepedulian pihak terkait terhadap pembangunan tugu yang dibangun untuk mengenang peristiwa tragis tersebut. Hingga kini masih terbengkalai dan dipenuhi semak belukar. "Karena dilaksanakan upacara peringatan 17 Agustus, lokasinya dibersihkan," kata Zeki sembari menunjuk ke tugu yang berada di sampingnya.

"Kita ingin mengingatkan semua pihak bahwa di lokasi ini pernah terjadi pembunuhan puluhan orang akibat mempertahankan kemerdekaan RI dari serangan tentara Belanda. Mudah-mudahan dengan pelaksanaan upacara ini, mengingatkan kita terhadap peristiwa tragis tersebut," kata Zeki Aliwardana.

Dikatakan Zeki, jika ada tugu peringatan peristiwa Surau Batu ini, setidaknya mampu memberikan inspirasi dan semangat juang bagi generasi muda di Sintuak dan Padang Pariaman. "Jadi wajar saja generasi muda sekarang semakin jauh dari nilai-nilai nasionalisme dan semangat juang 1945, karena memang perhatian terhadap peninggalan peristiwa yang bersejarah juga sangat minim," kata Zeki.

Penulis buku Sejarah Perjuangan Rakyat Padang Pariaman Dalam Perang Kemerdekaan RI 1945-1950, Armaidi Tanjung yang turut hadir dalam upacara tersebut menambahkan, peristiwa penembakan 40 orang di Surau Batu ini, merupakan penembakan yang tragis sekaligu memilukan.

Dalam sejarah perjuangan rakyat Padangpariaman mempertahankan kemerdekaan RI dari serangan Belanda, peristiwa ini yang paling banyak menelan korban dalam waktu yang singkat.

"Jadi memang pembangunan tugu sangat penting. Tugu tersebut dapat membangkit semangat mengenang terhadap peristiwa masa lalu yang berkesan dalam sejarah. Saat menulis buku sejarah perjuangan rakyat Padang Pariaman tersebut, saya kaget menemukan data adanya peristiwa Surau Batu. Buku tersebut diterbitkan dan didanai Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman sepuluh tahun lalu, 2008," tutur Armaidi yang juga menulis buku sejarah Kota Pariaman.

Di arena upacara juga ditampilkan sebanyak 21 buah foto perjuangan kemerdekaaan RI yang terjadi di Sintuak dan Lubuk Alung yang dicari Rio Tampati Putra, warga korong Simpang Tigo Nagari Sintuak. Rio berhasil mendapatkan foto-foto tersebut di Museum Belanda melalui internet. Foto tersebut semakin mengharukan peserta upacara.

Korban Pembunuhan Belanda

Gencarnya perlawanan pemuda dan pejuang TRI/TNI di Sintuak Tobohgadang sekitarnya ,membuat Belanda kalap dan melakukan serangan membabi buta. Rakyat biasa, petani, saudagar jadi sasaran. Pagi, 7 Juni 1949, satu kompi serdadu Belanda melakukan penyisiran ke arah Barat dari Lubuak Aluang.

Operasi dipimpin Kapten Backer, Komando Markas Teritorial Belanda yang bergerak dari tiga jurusan, yaitu dari Selatan melalui Pungguangkasiak, dari Utara melalui Pakandangan dan Kototinggi serta dari Barat melalui Bintungan Tinggi, Pauhkamba, dan Tobohgadang.

Ketiga rombongan menyatu dan bertemu di pasar Sintuak, tepat di lapangan dekat stasiun kereta api Sintuak. Pada pukul 09.00 WIB, ketiga rombongan membawa orang-orang tangkapannya. Tujuan penyisiran menangkap gerilya pemuda pejuang kemerdekaan dan anggota TNI. Namun, setiap laki-laki dewasa yang ditemui digiring.

Di stasiun kereta api Sintuak, semua tangkapan dikumpulkan, dibagi tiga kelompok. Pertama, 20 orang dibawa ke Lubuak Aluang untuk diperiksa. Kedua, 35 orang disuruh pulang. Ketiga, 40 orang dibawa Belanda ke Surau Batu Sintuak.

Kelompok ini di halaman Surau Batu, mula-mula disuruh duduk melingkar mendengarkan tuduhan sebagai gerilya, ekstrimis, penghianat, perampok dan sebagainya. Walaupun ada di antaranya berteriak menyatakan bahwa ia petani, tidak tahu apa-apa, tidak dihiraukan serdadu Belanda.

Kemudian digiring ke pinggir sungai Batang Tapakih, berbaris membelakangi kepada serdadu Belanda dan menghadapi aliran sungai. Tiga senapan mesin siap memuntahkan peluru. Tiba-tiba terdengar komando tembak! Door... door... door. Sebanyak 37 orang tewas. Mayatnya dihanyutkan Batang Tapakih yang waktu itu tengah banjir.

Peristiwa berdarah itu terjadi sekitar pukul 10.00 WIB. Masyarakat setempat tidak ada yang menyaksikan langsung, hanya bunyi tembakan dari jauh. Tiga orang terhindar dari maut. Ketiganya, saat letusan senjata api musuh terdengar, cepat terjun ke sungai.

Lalu, menghanyutkan diri bersama air banjir. Masing-masing Zakaria alias Buyuang Gati, ditangkap di Tobohluaparik, Tobohgadang. Setelah hari gelap, baru berani keluar dari sungai dan pulang. Kedua, Hongkong yang dibangunkan ketika masih tidur pukul 05.30 WIB di Bayua Kototinggi. Ketiga, Nasir Labai Buyung Itik, ditangkap tentara Belanda di Surau Buluah Apo Sawahmansi, Tobohgadang, ketika selesai shalat Subuh.

Nasir Labai Itik, malam harinya sampai di Balaiusang Sintuak. Ia menceritakan kejadian pada masyarakat setempat. Informasinya dengan cepat tersebar luas dan malam itu juga masyarakat Sintuak bersama-sama membawa lampu petromak mencari korban.

Karena Batang Tapakih banjir, masyarakat kesulitan mencari jenazah korban. Tidak semua korban dapat ditemukan. Hanya beberapa korban dapat ditemukan. Enam korban yang tidak dikenal dikuburkan di tepi Batang Tapakih. Jenazah yang dikenal segera dibawa keluarga dan besoknya dikuburkan di pandam pekuburan masing-masing

Yang dikuburkan keluarga Nazir, Mulek Dodok dan Yusuf Jalang. Namun dapat dicatat hanya 26 orang teridentifikasi. Tiga orang selamat, 6 orang dikuburkan secara massal dan 5 orang lagi tidak ditemukan. (rls)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar