MITRA VALORA NEWS

Kamis, 2018-10-18 12:02 WIB

Sirine Tsunami Bunyi Tanggal 13 dan 26, Artinya Lagi Ujicoba Rutin

<p>Sirine Tsunami Bunyi Tanggal 13 dan 26, Artinya Lagi Ujicoba Rutin<p>

VALORAnews - Dalam rangka peningkatan kesiapsiagaan dalam penanggulangan bencana gempa dan tsunami, BPBD Kota Padang melakukan uji coba aktivasi...

Gas LPG 3 Kg Mahal dan Langka di Solsel, Efli: Pengecer Tak Bisa Ditindak

AI Mangindo Kayo | Kamis, 27-09-2018 | 11:23 WIB | 148 klik | Kab. Solok Selatan
<p>Gas LPG 3 Kg Mahal dan Langka di Solsel, Efli: Pengecer Tak Bisa Ditindak<p>

Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setkab Solok Selatan, Efli Rahmat. (humas)

VALORAnews - Sejumlah masyarakat di Kabupaten Solok Selatan, keluhkan tingginya harga jual Liguefied Petroleum Gas (LPG) atau elpiji tabung tiga kilogram yang di atas Harga Eceran Tertinggi (HET). Ditingkat pengecer, harga LPG tabung tiga kilogram mencapai Rp30 ribu.

Semestinya, pengaturan HET elpiji tiga kilogram berdasarkan Peraturan Gubernur Sumbar No 95 Tahun 2014 untuk Solok Selatan yaitu Rp20 ribu tingkat pangkalan dan Rp22 ribu tingkat pengencer.

Salah seorang ibu rumah tangga, Syafnita (35) mengatakan, saat ini harga jual gas LPG di warung bervariasi. Mulai dari harga Rp25 ribu hingga Rp30 ribu. Selain mahal, untuk mendapatnya pun sulit.


"Beda warung, beda pula harganya. Stoknya pun terbatas, tidak seperti biasanya," katanya.

Diharapkan dia, pemerintah untuk segera menertibkannya. Dilihat di lapangan, gas LPG tiga kilogram ini dipergunakan tidak tepat sasaran. Karena, ada beberapa pengusaha warung yang berskala besar masih memakai gas bersubsidi.

"Kami berharap, dengan kondisi seperti saat ini, pemerintah bisa menertibkan. Agar, penggunaan LPG bersubsidi ini benar-benar untuk masyarakat yang pantas," harapnya.

Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setdakab Solok Selatan, Epli Rahmat mengatakan, Pemkab Solok Selatan tidak bisa menindak masyarakat yang menjual LPG tabung tiga kilogram di atas Harga HET.

"Kalau pangkalan yang menjual elpiji tabung tiga kilogram di atas HET, baru bisa kami tindak tetapi kalau masyarakat, kami tidak berhak sebab yang berizin adalah pangkalan," katanya.

Menurutnya, sekarang yang terjadi masyarakat membeli gas ke pangkalan, kemudian dijual lagi dengan harga diatas HET. Saat ini, masyarakat yang mengencer gas tabung tiga kilogram biasanya membeli kepangkalan lima tabung atau lebih setiap hari, dengan harga sesuai HET kemudian sampai di rumah dijual lagi dengan harga yang lebih mahal sehingga stok cepat habis.

"Bila ketersediaan tidak mencukupi maka berlakulah mekanisme pasar yaitu harga melambung ditingkat pengencer," ujarnya.

Pihak pangkalan, katanya, tidak bisa melarang masyarakat yang ingin membeli gas tabung tiga kilogram sehingga stok cepat habis. Keluarga miskin di Solok Selatan sebanyak 7 persen, sedangkan ketersediaan gas tabung tiga kilogram tidak mencukupi ditambah lagi hampir semua penduduk Solok Selatan menggunakan elpiji tiga kilogram.

"Peruntukan elpiji tiga kilogram memang untuk masyarakat miskin, tetapi juga tidak ada larangan membeli untuk yang mampu," katanya.

Agar lebih tepat sasaran, pertamina harus membuat aturan baru dan penjualannya secara tertutup atau yang memiliki kartu khusus yang bisa membelinya.

Untuk mengatasi hal ini, pihaknya sudah meminta ke Ditjen Migas untuk ditambah ketersediaannya sehingga bisa memenuhi kebutuhan masyarakat. (rls)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar

Berita Bisnis

Berita Kab. Solok Selatan