MITRA VALORA NEWS

Minggu, 2018-12-16 21:11 WIB

Gempabumi Tektonik Aktifitas Sesar Sumatera Kejutkan Warga di Dinihari

<p>Gempabumi Tektonik Aktifitas Sesar Sumatera Kejutkan Warga di Dinihari<p>

VALORAnews - Gempabumi mengguncang sebagian wilayah Sumatera Barat, Ahad (16/12/2018), pada pukul 00.07 WIB. Hasil analisa BMKG Stasiun Geofisika...

BI Nilai Pertumbuhan Ekonomi Sumbar 2019 Potensi Melambat, Begini Analisanya

AI Mangindo Kayo | Kamis, 15-11-2018 | 21:28 WIB | 104 klik | Provinsi Sumatera Barat
<p>BI Nilai Pertumbuhan Ekonomi Sumbar 2019 Potensi Melambat, Begini Analisanya<p>

Wartawan media cetak, elektronik dan siber di Sumbar, foto bersama dengan pemateri pada pelatihan wartawan, di Yogyakarta, Kamis (15/11/2018). (veby rikiyanto/valoranews)

VALORAnews - Kondisi neraca perdagangan tidak seimbang di Indonesia, dimana jumlah pemasukan dari ekspor dibanding pengeluaran dari sektor impor, jadi sentimen negatif dan menimbulkan kekhawatiran para investor. Faktor psiologis tersebut, mengakibatkan depresiasi terhadap nilai tukar rupiah.

Selain itu, perang dagang antara dua poros kekuatan ekonomi dunia yaitu Amerika dan China, juga berdampak terhadap perekonomian negara lain termasuk Indonesia.

"Salah satu kebijakan BI untuk menstabilkan nilai tukar rupiah adalah dengan menaikan suku bunga perbankan. Walau demikian, secara nasional pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2018 mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya," ungkap Kepala Divisi Advisory dan Pengembangan Ekonomi Bank Indonesia Sumaterara Barat, Bimo Epyanto pada pelatihan wartawan, di Yogyakarta, Kamis (15/11/2018).


Hal ini, terang Bimo, membuktikan kalau program pemerintah dalan meningkatkan pertumbuhan cukup baik. Secara umum, terangnya, inflasi di Indonesia relatif terkendali. Inflasi yang meningkat terjadi di Sulawesi yang dipengaruhi oleh bencana alam.

"Untuk sumbar, pertumbuhan ekonominya masih di atas pertumbuhan nasional. Walau demikian, secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Sumbar 2018 lebih rendah dari dua tahun sebelumnya," ungkap Bimo.

Perekonomian Sumbar, ungkap dia, bertumpu pada sektor usaha konsumtif seperti pertanian. "Perekonomian demikian, cenderung tidak berkelanjutan dan dikhawatirkan tahun mendatang akan lebih rendah dari nasional," kata Bimo menganalisa.

"Sektor usaha konsumtif di bidang pertanian ini, nilai tambahnya rendah," tambahnya.

Secara nasional, terang Bimo, perkembangan inflasi Sumbar berada di peringkat 13, sementara untuk Sumatera, Sumbar berada diperingkat 3.

Pada triwulan IV/2018 ini, terang Bimo, inflasi diperkirakan mencapai 5,0 sampai 5,4%. Sementara, pertumbuhan ekonomi 2018 secara keseluruhan 4,8 hingga 5,2%.

Bimo menambahkan, industri strategis Sumbar sangat tergantung pada pertumbuhan konsumsi rumah tangga, sehingga tidak sustainable untuk kedepannya.

"Kinerja ekspor Sumbar, sangat tergantung dengan SDA bahan mentah. Sebesar 80 persen pangsa ekspor Sumbar yakni CPO dan karet. Oleh karenanya, perlu dilakukan peningkatan diversifikasi dan hilirisasi produk agar menambah value added komunitas ekspor seperti kopi dan coklat," ungkapnya.

"Kalau tetap seperti ini, ekonomi Sumbar beresiko melambat pada 2019," ujar Bimo.

"Faktor yang mendongkrak pertumbuhan perekonomian Sumbar saat ini adalah membaiknya ekonomi India dan Amerika. Ya itu tadi, sebagian besar CPO Sumbar di ekspor ke kedua negara tersebut," tambah Bimo.

Selain itu, sektor pariwisata bisa dianggap sebagai salah satu sektor yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Pengelolaan sektor pariwisata yang baik, dapat menggerakan sektor lain yang terkait seperti sektor perdagangan dan sektor transportasi.

"Tantangan terbesar dalam menggerakan sektor pariwisata adalah menyinergikan dinas terkait. Karena melibatkan banyak sub sektor," ungkapnya. "Diperlukan koordinasi dan dikoordinir secara baik oleh pemangku kebijakan," terangnya.

Permasalah yang sering ditemui dalam pengembangan sektor pariwisata di Sumbar, adalah belum bisa diselasaikannya masalah tanah ulayat. "Peningkatan UMKM, juga merupakan solusi untuk meningkatkan perekonomian," terangnya.

"Hasil-hasil pertanian, tidak hanya habis dikonsumsi tapi dapat diolah lagi jadi sesuatu yang produktif dan jadi nilai tambah," ungkapnya.

Pendampingan terhadap UMKM agar dapat menjadi produktif, terang dia, juga sangat diperlukan sehingga hasil olahan dari UMKM tersebut dapat dipasarkan keluar Sumbar atau berskala nasional. (vry)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar

Berita Provinsi Sumatera Barat