MITRA VALORA NEWS

Jumat, 2019-03-22 10:19 WIB

Mahyeldi Lepas Keberangkatan Keluarga Korban Penembakan ke Selandia Baru

<p>Mahyeldi Lepas Keberangkatan Keluarga Korban Penembakan ke Selandia Baru<p>

VALORAnews - Wali Kota Padang, Mahyeldi melepas rombongan keluarga korban penembakan di Masjid Linwood Avenue, New Zealand (Selandia Baru). Keluarga...

Ini Kronologi Tsunami Selat Sunda Berdasarkan Analisis BMKG

AI Mangindo Kayo | Minggu, 30-01-2019 | 19:20 WIB | 91 klik | Nasional
<p>Ini Kronologi Tsunami Selat Sunda Berdasarkan Analisis BMKG<p>

Ini Kronologi Tsunami Selat Sunda Berdasarkan Analisis BMKG

VALORAnews - Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Rahmat Triyono mengungkapkan, pada Jumat (21/12/2018) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah mendeteksi adanya aktivitas erupsi gunung anak krakatau Lampung.

Saat dirilis data, tinggi kolom abu teramati kurang lebih 400 m di atas puncak dan 738 m di atas permukaan laut. Kolom abu teramati berwarna hitam dengan intensitas tebal condong ke arah utara. Pada saat itu, Gunung Anak krakatau berada pada status level II (waspada).

"Sebelumnya, BMKG telah memberikan peringatan dini gelombang tinggi yang berlaku 22 Desember 2018 pukul 07.00 WIB hingga 25 Desember 2018 pukul 07.00 WIB di wilayah perairan Selat Sunda dengan ketinggian 1.5-2.5 meter," ujar Rahmat dalam siaran pers yang diterima, terkait proses terjadinya tsunami Selat Sunda yang melanda pesisir pantai Banten dan Lampung pada Sabtu malam (22/12/2018) lalu.


Pada Sabtu (22/12/2018) pukul 20.56 WIB, ungkap Rahmat, terjadi erupsi Gunung Anak krakatau yang memicu longsor lereng Gunung Anak Krakatau seluas 64 Ha. Pada pukul 21.03 WIB tercatat di sensor seismograph BMKG di Cigeulis Pandeglang (CGJ) dan beberapa sensor di wilayah Banten serta Lampung.

Namun sistem prosesing otomatis gempa BMKG, tidak memproses secara otomatis karena signal getaran yang tercatat bukan merupakan signal gempabumi tektonik.

"Sistem peringatan dini tsunami yang dimiliki BMKG saat ini hanya untuk tsunami yang disebabkan gempa bumi tektonik, sedangkan tsunami yang melanda Selat Sunda adalah akibat aktivitas vulkanik sehingga saat ada aktivitas vulkanik di Gunung Anak Kraktau, sistem peringatan dini tsunami tidak mampu memproses secara otomatis adanya aktivitas vulkanik sehingga tidak memberikan warning tsunami," imbuh Rahmat.

BMKG pun, lanjutnya, tidak melakukan monitoring aktivitas gunung Krakatau dan gunung api lainnya,monitoring ini dilakukan oleh pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi, Kementrian ESDM.

Lalu, pada pukul 21.30 WIB, petugas Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG mendapat laporan kepanikan masyarakat di wilayah Banten dan Lampung, karena air laut pasang yang tidak normal. BMKG langsung melakukan checking marigram The Gauge Badan Informasi Geospasial (BIG).

Dari hasil checking tersebut, terindikasi tercatat perubahan permukaan air laut di beberapa wilayah seperti di Pantai Jambu, Bulakan, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang: tercatat pukul 21.27 WIB ketinggian air mencapai 0.9 m.

Di pelabuhan Ciwandan, Kecamatan Ciwandan, Banten, tercatat pukul 21.33 WIB dengan ketinggian 0.35 m, di Kota Agung Kecamatan Kota Agung, Lampung tercatat pukul 21.35 WIB dengan ketinggian 0.36 m dan di Pelabuhan Panjang Kecamatan Kota, Bandar Lampung: tercatat pukul 21.53 WIB dengan ketinggian 0.28 m.

Melihat dari hasil catatan marigran, BIG tersebut diyakini bahwa ini merupakan gelombang tsunami,selanjutnya pada pukul 22.30 WIB, BMKG segera mengeluarkan press release telah terjadi tsunami melanda Banten dan Lampung tidak dipicu oleh gempabumi tektonik.

Setelah itu, pada Sabtu (22/12/2018) BMKG menyampaikan telah terjadi tsunami yang melanda Banten dan Lampung dan bukan disebabkan gembapumi tektonik. Pada Ahad (23/12/2018), pukul 14.40 WIB BMKG memastikan bahwa pusat getaran ada di gunung anak krakatau, 115,46 BT- 6.10 LS, kedalaman 1 km, Getaran tersebut setara dengan kekuatan 3,4 SR. (rls/kyo)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar