MITRA VALORA NEWS

Senin, 2019-04-22 19:15 WIB

Padang Belum Penuhi Kriteria Universal Health Coverage

<p>Padang Belum Penuhi Kriteria Universal Health Coverage<p>

VALORAnews - Secara kuantitas, kepesertaan warga Kota Padang dalam Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan sudah mencapai 94%. Namun,...

Gempa Beruntun Siberut belum Terkait Titik Megathrust Mentawai, Ini Analisis Badrul dan Daryono

AI Mangindo Kayo | Minggu, 03-02-2019 | 21:31 WIB | 170 klik | Provinsi Sumatera Barat
<p>Gempa Beruntun Siberut belum Terkait Titik Megathrust Mentawai, Ini Analisis Badrul dan Daryono<p>

Titik kejadian gempa di kawasan Megathrust Mentawai yang dilansir BMKG Padangpanjang. (istimewa)

VALORAnews - Akademisi Fakultas Teknik Unand, Badrul Mustafa menilai, di jalur Megathrust terdapat tiga titik pusat gempa besar yang punya siklus dua ratus tahunan lebih. Dua titik di antaranya telah melepaskan energi besarnya itu yakni di Segmen Sipora-Pagai dan Segmen Enggano (Nias-Simelue-Aceh).

"Satu segmen lagi yakni Segmen Siberut, belum keluar gempa besarnya setelah kejadian 1797 dulu," ungkap Badrul Mustafa terkait fenomena gempa beruntun di Mentawai, Sabtu (2/2/2019) hingga Ahad (3/2/2019).

BMKG mencatat, pada Sabtu pukul 16.27 WIB, terjadi gempa berkekuatan 6,1 SR yang didahului gempa dengan magnitudo 5,3 SR. Kedua gempa ini hanya berselang 24 menit dengan kedalaman dangkal sekitar 26 Km.


Dijelaskan Badrul Mustafa, khusus untuk titik Megathrust Mentawai, ada dua segmen yang punya siklus gempa besar dua ratusan tahun lebih yakni Segmen Siberut dan Sipora-Pagai.

"Segmen Sipora-Pagai sudah keluar gempanya pada 12 dan 13 September 2007 dengan kekuatan 8,4; 7,9 dan 7,2 SR. Lalu, pada 25 Oktober 2007, muncul energi sisa sebagai gempa dengan kekuatan 7,8 yang menimbulkan tsunami," ungkap Badrul.

"Di Nias dan Simeulue Aceh juga sudah keluar energi besarnya. Tinggal Segmen Siberut yang belum keluar," tambah Badrul.

Analisis serupa juga disampaikan mantan Kepala Pusat Gempa dan Tsunami BMKG, Daryono. Menurutnya, gempa Siberut yang terjadi Sabtu petang 2 Februari 2019 lalu, terletak pada batas segmen Mentawai yang belum pecah dan Segmen Enggano yang sudah pecah pada 2007 dan 2010.

"Tampaknya, gempa hanya terjadi pada tepi-tepi ujung selatan dan utara dari segmen Mentawai yang belum pecah," kata Daryono melalui pesan whatsapp.

Apakah gempa beruntun di Siberut tersebut merupakan gempa pembuka (foreshocks) di segmen Mentawai? Menurut Daryono, tidak mudah untuk mengatakan sebuah aktivitas gempa disebut sebagai gempa pembuka.

"Memang ada beberapa ciri gempa pembuka. Gempa pembuka biasa terjadi pada zona dengan seismisitas rendah atau secara statistik kegempaan memiliki nilai b-value rendah. Jika kita amati wilayah Mentawai memang memiliki tingkat aktivitas kegempaan yang relatif rendah," terangnya.

Ciri berikutnya, terang Daryono, adanya migrasi titik hiposenter gempa yang semakin cepat (akselerasi) menuju titik inisiasi lokasi estimasi gempa utama (mainshock). "Semakin mendekati waktu gempa utama pecah, maka aktivitas gempa pembukanya makin banyak," kata Daryono menganalisis.

Ciri lain adalah munculnya gempa-gempa yang mirip atau yang disebut sebagai repeaters. Gempanya berulang-ulang di tempat yang relatif "sama," hanya di zona tersebut saja. "Ini menunjukkan ada pembebanan (loading) yang semakin lama semakin intensif sebelum gempa utamanya (mainshock) pecah. Analoginya mirip kalau kita mau mematahkan sepotong kayu, secara perlahan-lahan ada retakan-retakan kecil sebelum benar-benar patah," kata Daryono mengilustrasikan.

Untuk kasus Mentawai, ungkap Daryono, saat ini meski nilai b-value cenderung rendah, akan tetapi belum terlihat ada tanda-tanda atau karakteristik foreshocks seperti yang tersebut di atas. "Kita masih perlu melakukan monitoring aktivitas gempa di segmen Mentawai secara intensif dalam beberapa waktu ke depan," tukas dia.

Dikatakan, umumnya gempa kuat dengan magnitudo lebih 8.0 SR, memang hampir pasti dapat diamati gempa pembukanya. "Sebagai contoh, gempa Aceh (9.2 SR), gempa Tohuku (9.1 SR) dan gempa Chili (8,1 SR) memiliki aktivitas gempa pembuka 3 bulan sebelumya," urai dia.

Terkait meningkatnya aktivitas kegempaan di Samudra Hindia sebelah barat Sumatera, ungkap Daryono, masyarakat diimbau untuk tetap tenang, tidak perlu takut dan panik. "Secara alamiah, gempa Mentawai akan terjadi tapi entah kapan kita semua tidak tahu pastinya," terangnya.

"Seluruh lapisan masyarakat harus menyiapkan diri untuk terus meningkatkan upaya mitigasi. Bangunan rumah harus kuat untuk menahan guncangan gempa. Masyarakat harus mengerti bagaimana cara selamat saat terjadi gempa dan tsunami."

"Evakuasi mandiri tsunami harus jadi pemahaman alam bawah sadar bagi seluruh masyarakat pesisir dengan cara menjadikan gempa kuat sebagai peringatan dini tsunami. Sehingga jika merasakan gempa kuat di pantai, segeralah pergi menjauhi pantai," harapnya.

Gempanya Lama, Segera Evakuasi

Sementara, Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono menyarankan, jika terjadi gempa kecil (di bawah 5 SR) dengan durasi waktu lama (lebih dari 1 menit) di kawasan Megathrust Mentawai, sebaiknya segera evakuasi ke tempat aman.

Jika gempa besar dengan durasi lama, tentu saja segera evakuasi kelokasi aman adalah langkah bijak yang mesti dilakukan setiap warga yang bermukim di zona bahaya (merah) bencana gempa disertai tsunami.

"Kalau menunggu warning BMKG, warga akan kehilangan golden time (waktu berharga untuk evakuasi-red) sekitar 5 menit. Jadikan gempa itu sebagai warning," saran Rahmat melalui pesan whatsapp.

Waktu lima menit ini merupakan durasi yang dibutuhkan BMKG untuk melakukan permodelan terhadap kejadian sebuah gempa, apakah berpotensi tsunami atau tidak.

Sementara, Kepala Stasiun Geofisika BMKG Padangpanjang, Irwan Slamet melaporkan, untuk gempabumi yang berasal dari gempa mentawai, hingga pukul 18.00 WIB, Ahad (3/2/2019), terdapat 106 kejadian gempabumi. (kyo)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar