MITRA VALORA NEWS

Selasa, 2019-01-15 23:54 WIB

SMPN 4 Solsel Miliki Ruang Kelas Baru

<p>SMPN 4 Solsel Miliki Ruang Kelas Baru<p>

VALORAnews - Sekretaris Daerah Kabupaten Solok Selatan, H Yulian Efi meresmikan ruang kelas baru dan Ulang Tahun ke-40 SMPN 4 Solok Selatan, Selasa...

Pariwara Pemkab Solok Selatan

Festival SRG II Meriah, Muzni: Kita Tak Mau Adat dan Budaya Tersingkir Teknologi

AI Mangindo Kayo | Rabu, 27-03-2019 | 20:53 WIB | 318 klik | Kab. Solok Selatan
<p>Festival SRG II Meriah, Muzni: Kita Tak Mau Adat dan Budaya Tersingkir Teknologi<p>

Bupati Solsel, Muzni Zakaria memberikan sambutan pada pembukaan Festival Seribu Rumah Gadang II di halaman Rumah Gadang Tigo Lareh, Jumat (22/3/2019) malam. (humas)

VALORAnews - Ribuan masyarakat tumpah ruah menyaksikan pelaksanaan 'Alek Budaya' Festival Seribu Rumah Gadang (SRG) di Kabupaten Solok Selatan (Solsel), Jumat (22/3/2019) malam. Tidak hanya masyarakat lokal, semarak festival adat yang dikemas dengan suasana masa doeloe ini, juga turut disaksikan wisatawan asing.

Festival bertajuk "Manyulam Kain Jolong" ini, bertujuan untuk memperbaiki dan menata kembali budaya yang pernah ada dalam masyarakat Minang khususnya Solsel, agar kembali disenangi dan dicintai. Melalui festival SRG ini, masyarakat diajak untuk menghidupkan kembali seni budaya dan adat istiadat yang nyaris terlupakan oleh perkembangan zaman.

Bupati Solsel, H Muzni Zakaria saat membuka secara resmi pergelaran budaya itu mengatakan, tatanan adat istiadat dan kesenian yang dimiliki dan yang hidup di masyarakat Solsel pada masa lampau merupakan kekayaan budaya yang mesti dipelihara. Semua pihak, baik pemerintah, tokoh adat, ninik mamak, anak kemenakan bahkan seluruh masyarakat di Solsel bertanggung jawab untuk tugas pelestarian itu.


Muzni berharap dengan kemeriahan Festival SRG ini, masyarakat terutama generasi muda tetap bisa melestarikan adat dan budaya Minangkabau terutama di Solsel sendiri. Saat ini katanya, perkembangan teknologi dan informasi rentan untuk lunturnya adat dan budaya asli masyarakat.

"Tak bisa dipungkiri, bahwa kita sudah hidup di era kemajuan teknologi yang luar biasa dan serba canggih. Dengan kemajuan teknologi ini, budaya kita kian tersingkir. Ini kita tak mau," ujarnya.

Harapan lain, lanjutnya, melalui festival itu agar Solsel semakin populer lagi keberadaannya sebagai daerah yang kaya budaya. Kegiatan ini diharapkan dapat menarik animo wisatawan, baik domestik ataupun mancanegara untuk berkunjung ke Solsel. Menikmati keunikan seni budaya di kawasan SRG serta berbagai destinasi wisata alam yang indah.

"Kita punya banyak destinasi wisata di Solsel. Di Muaralabuh dan sekitarnya kita ada kawasan SRG, wisata sejarah Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu dan Kerajaan Balun. Ada juga Mesjid bersejarah 60 Kurang Aso," ungkapnya.

"Di Sangir kita punya banyak wisata alam air terjun, Goa Batu Kapal di Sangir Balai Janggo. Ada pula Rumah Gadang Panjang Abai di Sangir Batang Hari yang baru saja dinobatkan sebagai situs sejarah terpopuler dalam ajang Anugrah Pesona Indonesia," tamnbah dia.

Kemudian, Muzni juga berharap pada Festival SRG yang kedua ini, mereka dapat memperkenalkan semua budaya lama kepada seluruh masyarakat. "Festival SRG ini adalah wadah untuk menampilkan kembali budaya adat istiadat lama yang dulu dilaksanakan pendahulu kita dengan sangat sempurna sekali," kata Muzni.

Sebelum pembukaan, Muzni bersama pemuka masyarakat mulai dari para "Raja nan Barampek," penghulu, ninik mamak, alim ulama, perwakilan pemerintah provinsi, perangkat daerah dan tokoh masyarakat berjalan dari gerbang kawasan SRG. Mereka disambut dengan beraneka tarian, penampilan silat tradisi, nyanyian dengan diiringi musik rebana, rabab dan lain-lain.

Rombongan kemudian naik ke Rumah Gadang Tigo Lareh, dimana acara pembukaan dilaksanakan. Sebelum Muzni membuka festival ini, mereka juga makan bajamba secara adat. Di mana sebelum dan sesudah makan diselingi dengan pidato adat atau sambah kato. Barulah setelah itu bupati secara resmi membuka Festival Seribu Rumah Gadang (SRG).

Hadir pada kegiatan itu, Staf Ahli Gubernur Sumbar, W Yani, Sekda Solsel Yulian Efi, Raja-Raja Sungai Pagu, Ketua LKAAM Solsel Noviar Dt R Endah, Wakil Ketua DPRD Solsel, Armen Syahjohan , Kajari Solsel M Rohmadi, Kapolsek Sungai Pagu, AKP Henwel, Danramil Sungai Pagu Kapten Betri Meldi, para ninik mamak dan undangan lainnya.

Selama Festival ini, kawasan SRG disulap dengan suasana masa lampau. Gemerlap lampu obor dari karambia tekong (tempurung kelapa, red) membuat pengunjung bernostalgia dengan nuansa malam masa dulu. Sepanjang jalan ada lima titik musik tradisi dan lima titik silat yang digunakan untuk menyambut para tamu yang datang.

Sabtu (23/3/2019) siang, festival budaya itu dilanjutkan dengan penampilan ragam pawai alegoris seperti maarak bungo lamang dan sebagainya.

Lalu, ada pula edukasi budaya untuk generasi. Seperti menghadirkan pelajar Taman Kanak-kanak dan diajak berkeliling kawasan serta mengunjungi empat museum pribadi untuk melihat benda-benda dan koleksi yang bernilai sejarah.

Sedangkan untuk tingkat SMP akan dibawa ke Istana Balun dan mereka akan belajar budaya dan sejarah yang ada di sana. Untuk tingkat SMA, mereka mengamati arak-arakan 10 tema budaya yang ada di Solok Selatan, mulai dari simpang Pasar Baru hingga Lapangan Bancah.

Selain itu juga ada penampilan kesenian di Panggung Anak Nagari dari berbagai sanggar dan komunitas. Terakhir, nantinya festival akan ditutup dengan kesenian "Memancuang Alek" dari Lubuak Malako yang akan diperankan oleh tujuh orang aktor anak nagari. (adv)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar

Berita Kab. Solok Selatan