MITRA VALORA NEWS

Selasa, 2019-07-23 16:20 WIB

Peta Proses Bisnis Disosialisasikan, Hendri Septa: Masih Banyak SOP Belum Terintegrasi

<p>Peta Proses Bisnis Disosialisasikan, Hendri Septa: Masih Banyak SOP Belum Terintegrasi<p>

VALORAnews - Wakil Wali Kota Padang, Hendri Septa membuka Sosialisasi dan Coaching Clinic Penyusunan Peta Proses Bisnis di lingkungan Pemerintah Kota...

Libur Lebaran Asyik dengan Festival Bakcang dan Lamang Baluo

AI Mangindo Kayo | Kamis, 06-06-2019 | 16:58 WIB | 299 klik | Kota Padang
<p>Libur Lebaran Asyik  dengan Festival Bakcang dan Lamang Baluo<p>

Pejabat Kemenpar RI, Raseno Arya bersama Mahyeldi (Wako Padang), Hendri Septa (Wawako Padang), Elly Thrisyanti (ketua DPRD) dan panitia serta tokoh masyarakat lainnya, memukul gendang sebagai tanda dimulainya festival 10.000 Bakcang dan Lamang Baluo di Padang, Kamis (6/6/2019). (humas)

VALORAnews - Festival yang menyajikan 10.000 bakcang ayam dan 10.000 lamang baluo dibuka dengan ditandai penabuhan gendang secara bersama-sama oleh Raseno Arya (Pejabat Kemenpar RI) bersama Wali Kota Padang Mahyeldi dan Hendri Septa (wakil wali kota).

Selain itu, juga diikuti Ketua DPRD Padang Elly Thrisyanti dan sejumlah anggota DPRD, unsur Forkopimda Sumbar dan Kota Padang serta lainnya. Event yang dihelat pada 6-7 Juni 2019 ini digadang-gadang siap meramaikan libur lebaran wisatawan lokal atau wisatawan mancanegara selama berada di Kota Bingkuang.

Raseno Arya menyampaikan, festival yang menyatukan dua budaya yakni kebudayaan Minang dan Tionghoa ini, pertama kalinya ada di Indonesia bahkan di dunia. Sehingga, memiliki multi manfaat khususnya bagi Kota Padang, Sumatera Barat.


Hal ini terbilang menarik, karena selama ini banyak kegiatan di kalangan masyarakat Tionghoa seperti Imlek, Cap Gomeh dan lainnya namun tidak digabung dengan kegiatan etnis lainnya.

"Di festival inilah, dua budaya itu menyatu mulai dari beragam budaya, kuliner hingga pertunjukan seni yang bisa dinikmati oleh masyarakat Minang dan Tionghoa," kata Raseno dalam sambutannya sewaktu pembukaan festival yang dilangsungkan bawah jembatan Siti Nurbaya Padang, Kamis (6/7/2019) pagi.

Selanjutnya, menurut Raseno, ia pun menilai kegiatan ini melihatkan bagi daerah lain bahwa di Padang masyarakatnya amat toleran dengan keberagaman budaya.

"Festival ini akan kita jadikan kalender pariwisata nasional tiap tahunnya. Pihak kita nanti akan berkoordinasi dengan Pemko Padang, untuk menyelenggarakan kegiatan ini tahun depan dan seterusnya. Karena dapat menarik wisatawan berkunjung ke Padang tiap tahun," tukas dia.

Sementara, Mahyeldi menyampaikan, akulturasi budaya Minang dan Tionghoa di Padang memang terjalin kuat. Masyarakat Tionghoa dan etnis lainnya, sudah jadi bagian dari warga Padang. Dia pun memastikan, akan memberikan tempat bagi seluruh warga tidak melihat suku dan agama, selagi warga Padang akan diberi pelayanan terbaik.

"Insyaa Allah, festival ini akan memecahkan dua rekor MURI untuk kategori pembuatan 10.000 bakcang ayam dan 10.000 lamang baluo. Kita tentu berharap, Kota Padang semakin ramai pada libur Lebaran melalui serangkaian kegiatan yang dilakukan. Salah satunya melalui festival yang berpusat di kawasan Kota Tua Batang Arau ini," ujar Mahyeldi kepada wartawan usai pembukaan.

Mahyeldi melanjutkan, festival tersebut tentunya juga diharapkan bakal meningkatkan kunjungan pariwisata Kota Padang dengan menarik wisatawan dan mengembalikan warga Tionghoa asal Sumbar untuk datang kembali ke Padang.

Sementara, jelasnya, alasan kenapa dipilihnya kegiatan mulai di hari kedua lebaran, karena biasanya masyarakat sudah mulai berekreasi pada hari kedua lebaran. Di samping itu juga bertepatan dengan tanggal hari makan bakcang sedunia yang jatuh pada 7 Juni.

"Festival ini kita rencanakan jadi agenda rutin dan semoga dapat dikemas lebih besar lagi tahun depan. Kita harapkan seluruh pihak dan juga warga masyarakat Kota Padang dapat menyukseskannya," tambah Mahyeldi.

Sementara itu, Alam Gunawan, ketua umum panitia pelaksana festival mengatakan, festival tersebut bertujuan untuk mempromosikan wisata, kuliner, dan budaya serta turut memajukan perekonomian masyarakat Sumbar, khususnya Kota Padang di bidang kuliner.

"Bukan hanya penyajian 10.000 bakcang dan 10.000 lamang baluo saja, kegiatan juga akan diisi serangkaian acara kebersamaan seperti penampilan kebudayaan kedua etnis, musik, pakaian, tarian dan lainnya," kata Alam.

Ungkap Alam, untuk pembuatan 10.000 bakcang dan 10.000 lamang baluo, pihaknya sudah meminta tenaga profesional yang sudah terbiasa membuat dua kuliner khas Tionghoa dan Minangkabau itu.

"Untuk bakcang, ada tujuh orang profesional yang kita minta dan 15 orang untuk lamang baluo," ujarnya.

Ditargetkannya, dalam festival ini setidaknya akan ada sebanyak 15.000 orang yang akan berkunjung. Seperti diketahui, terang Alam, Bakcang adalah makanan tradisi etnis Tionghoa. Saat sekarang ini bakcang sendiri sudah mengalami banyak variasi rasa, seperti rendang, vegetarian, dan ayam.

"Bak artinya daging dan cang artinya kue. Bakcang ini makanan tradisi China," lanjutnya.

Sedangkan lamang baluo adalah makanan klasik Minangkabau yang biasanya dibawa ketika hendak mengunjungi rumah mertua.

"Makanan ini sama-sama makanan klasik dan rasanya sama-sama enak," papar Alam Gunawan.

Puncak festival tersebut terjadi pada Jumat (7/6/2019) dan dimulai pada pukul 09.00 WIB. Kegiatan ini didukung Kementerian Pariwisata, Wali Kota Padang, BUMN, dan pengusaha-pengusaha lainnya. (rls/vry)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar