MITRA VALORA NEWS

Kamis, 2019-11-21 18:09 WIB

Masuk Pantai Air Manis dan Gunung Padang Gunakan Gunakan Brizzi Mulai Besok

<p>Masuk Pantai Air Manis dan Gunung Padang Gunakan Gunakan Brizzi Mulai Besok<p>

VALORAnews - Dinas Pariwisata Padang memberlakukan pembayaran sistem non tunai atau menggunakan kartu Brizzi untuk retribusi masuk objek wisata...

Deflasi Sumbar Oktober 2019 Lebih Dalam

AI Mangindo Kayo | Jumat, 01-11-2019 | 19:37 WIB | 78 klik | Provinsi Sumatera Barat
<p>Deflasi Sumbar Oktober 2019 Lebih Dalam<p>

Deflasi Sumbar Oktober 2019 Lebih Dalam

VALORAnews - Setelah mengalami deflasi selama dua bulan berturut-turut, Agustus-September 2019, Sumatera Barat kembali mencatatkan deflasi pada Oktober 2019. Perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) umum Sumatera Barat pada Oktober 2019 kembali mengalami deflasi sebesar -0,30% (mtm), lebih kecil dibandingkan realisasi deflasi September 2019 yang sebesar -0,97% (mtm).

"Laju deflasi Sumatera Barat pada Oktober 2019 tersebut lebih dalam dibanding deflasi Kawasan Sumatera yang sebesar -0,16% (mtm) dan inflasi nasional yang sebesar 0,22% (mtm)," ungkap Wakil Ketua Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumatera Barat, Wahyu Purnama A, dalam siaran pers yang diterima, Jumat (1/11/2019).

Dikatakan Wahyu, realisasi deflasi Oktober 2019 menjadikan Sumatera Barat sebagai provinsi dengan deflasi terdalam ke-4 dari 15 provinsi yang mengalami deflasi di Indonesia, deflasi tertinggi secara nasional terjadi di Bengkulu (-0,56% mtm), sedangkan inflasi tertinggi secara nasional terjadi di provinsi Sulawesi Utara (1,22% mtm).


Secara tahunan, ungkap Wahyu, pergerakan harga pada Oktober 2019 menunjukkan inflasi sebesar 2,39% (yoy), atau lebih rendah dibandingkan periode sama tahun 2018 yang sebesar 3,29% (yoy). Secara tahun berjalan, inflasi Sumatera Barat hingga Oktober 2019 mencapai 1,92% (ytd) atau menurun dibandingkan inflasi tahun berjalan September 2019 yang sebesar 2,23% (ytd).

"Deflasi terutama berasal dari kelompok bahan makanan dan transportasi, komunikasi dan jasa keuangan," urai Wahyu yang juga Kepala Perwakilan BI Sumbar itu.

Dijelaskan, kelompok bahan makanan tercatat mengalami deflasi sebesar -0,99% (mtm), meningkat moderat dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar -4,02% (mtm). Ditinjau dari komoditasnya deflasi kelompok bahan makanan terutama dari penurunan harga cabai merah, telur ayam ras dan cabai hijau.

Menurunnya harga cabai merah terus berlanjut seiring dengan masa panen yang masih berlangsung dan pasokan yang berlimpah di dalam Sumbar maupun dari luar Sumbar. Masih berlanjutnya tren deflasi komoditas telur ayam ras dan cabai hijau terjadi seiring terjaganya pasokan dan turunnya permintaan di pasar.

Sementara itu, kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan terpantau mengalami deflasi sebesar -0,36% (mtm), atau turun dibandingkan bulan September 2019 yang masih mengalami inflasi sebesar 0,41% (mtm). Deflasi kelompok ini terutama didorong oleh turunnya permintaan akan angkutan udara seiring dengan low season pascaliburan.

Disisi lain, deflasi Oktober 2019 tertahan oleh kenaikan harga beberapa komoditas strategis, seperti bawang merah, beras dan daging ayam ras dengan andil masing-masing sebesar 0,10%; 0,05%; dan 0,04%. Kenaikan harga bawang merah karena pasokan yang mulai terbatas di pasaran akibat keterbatasan pasokan dari Pulau Jawa yang sedang memasuki masa tanam.

Sementara itu, harga beras menunjukkan peningkatan dikarenakan adanya puso di sebagian sentra produksi beras di Sumbar. Harga daging ayam ras yang meningkat karena pasokannya mulai berkurang.

Menghadapi berbagai risiko yang ada, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Sumatera Barat secara aktif melakukan berbagai upaya dalam pengendalian inflasi di daerah. Upaya tersebut antara lain diwujudkan melalui peningkatan sinergi dalam menjaga kecukupan dan kelancaran pasokan bahan pangan strategis, seperti beras, cabai merah, bawang merah, daging ayam ras, dan telur ayam ras.

"Dalam rangka stabilisasi harga beras, Bulog Divre Sumatera Barat selama Oktober 2019 telah melakukan operasi pasar untuk komoditas beras sebanyak 902,12 ton," ungkapnya.

Dari sisi kebijakan, TPID Sumatera Barat juga terus memperkuat sinergi antar anggota TPID di Sumatera Barat, salah satunya melalui pertemuan monitoring dan evaluasi Program Kerja Pengendalian Inflasi Tahun 2019 pada 11 Oktober 2019.

Dalam pertemuan tersebut, dilakukan evaluasi pencapaian program kerja TPID 2019 dan implementasi roadmap pengendalian inflasi tahun 2019-2022 serta tindak lanjut yang perlu dilakukan agar program kerja dan roadmap pengendalian inflasi Sumbar bisa tercapai.

"Kedepan, diharapkan sinergi dan koordinasi TPID Provinsi maupun TPID Kabupaten/Kota di Sumatera Barat dapat terus ditingkatkan terutama dalam rangka mengantisipasi potensi peningkatan inflasi pada akhir 2019," tegasnya. (vri)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar

Berita Provinsi Sumatera Barat