MITRA VALORA NEWS

Begini Cara Pemimpin di Era Khalifah 'Umar Memutus Rantai Penularan Pandemi

AI Mangindo Kayo | Senin, 23-03-2020 | 08:24 WIB | 138 klik | Provinsi Sumatera Barat
<p>Begini Cara Pemimpin di Era Khalifah 'Umar Memutus Rantai Penularan Pandemi<p>

Ketua Umum MUI Sumbar, Gusrizal Gazahar Dt Palimo Basa. (istimewa)

VALORAnews - Ketua Umum MUI Sumbar, Gusrizal Gazahar Dt Palimo Basa menyeru umat Islam di Sumbar dan Indonesia secara umum, belajar kembali pada kasus 'Tha'un 'Amawas' yang terjadi di zaman Khalifah 'Umar Ibn al-Khatthab RA, menyikapi pandemi Virus Corona (Covid19) yang mulai merembet keseluruh penjuru negeri.

Gusrizal menukilkan kisah setelah dua sahabat Rasulullah yang jadi gubernur Syam gugur syahid terkena wabah Tha'un 'Amawas yaitu Abu 'Ubaidah Ibn al-Jarrah RA dan Mu'adz Ibnu Jabal RA, kepemimpinan selanjutnya jatuh kepada 'Amru Ibn al-'Ash RA. Hal ini tentunya dengan persetujuan Amirul Mukminin 'Umar Ibn al-Khatthab.

"Berbeda dengan dua gubernur sebelumnya yang lebih memfokuskan kepada menanamkan nilai kesabaran dan berharap pahala di sisi Allah SWT, 'Amru Ibn al-'Ash RA lebih menekankan kepada langkah-langkah ikhtiar untuk menghentikan wabah ini biidznillah," ungkap dia.


Berdasarkan kitab Badzlul Maa'un dan kitab al-Bidayah wa al-Nihayah, ungkap Gusrizal, 'Amru Ibn al-'Ash RA membuat kesimpulan sendiri atas kejadian yang menimpa negerinya. Kesimpulan ini diambil dari observasi dan diagnosa yang dilakukannya atas wabah yang tengah menimpa.

"Disampaikan dalam khutbah beliau, Wahai manusia, sesungguhnya penyakit ini apabila menimpa, maka ia akan menyala bagaikan nyala api. Maka, jadikanlah gunung-gunung sebagai benteng dari penyakit ini," ungkap Gusrizal

"Abu Wailah al-Hudzaliy berkata, "engkau berbohong! Demi Allah, sesungguhnya aku telah menemani Rasulullah SAW sedangkan engkau (waktu itu) lebih buruk dari keledaiku."

'Amru menjawab, "Demi Allah, saya tidak akan membalas apa yang engkau katakan dan demi Allah, kita tidak akan menetap di sini (tempat wabah-red)."

Kemudian 'Amru keluar dan orang banyak keluar pula (mengikutinya). Mereka pun berpencar dan Allah SWT menolak bala itu dari mereka.

Apa yang dilakukan 'Amru tersebut, sampai kepada 'Umar ibn al-Khatthab ra dan beliau tidak membencinya.

Kalau dianalisa, ungkap Gusrizal, langkah yang dilakukan 'Amru RA, bukankah ini yang disebut sekarang dengan memisahkan antara yang terpapar dengan yang belum terpapar wabah (phisical distancing).

Kemudian, berakhir dengan mengisolasi tempat berjangkitnya wabah secara total yang dikenal saat ini dengan istilah karantina wilayah.

"Kalimat 'menyala bagaikan nyala api', benar-benar kesimpulan yang akurat dalam menjelaskan sifat penyebaran wabah," ungkap Gusrizal.

"Selama masih ada orang yang bisa dipaparinya, wabah akan tetap menyebar sebagaimana api yang akan terus berkobar selama masih ada benda yang akan dibakarnya."

Di samping akurat dalam menyimpulkan hasil analisis, ungkap dia, 'Amru RA juga akurat dalam merumuskan tindakan yang sangat efektif yaitu "maka jadikanlah gunung-gunung sebagai benteng dari penyakit ini" atau dalam riwayat lain, "menyingkirlah ke gunung-gunung."

Selanjutnya, istiqamah dalam menjalankan keputusannya. "Suatu tindakan seorang pemimpin yang patut ditauladani dalam menghadapi krisis," tegas Gusrizal menyikapi pandemi Covid19 ini.

Di sisi lain, terangnya, bila kisah ini direnungkan dan dipahami dengan baik, umat Islam sudah sepatutnya memahami betapa pentingnya langkah-langkah ikhtiar untuk memutus mata rantai penyebaran wabah.

"Pihak yang terkait juga sudah saatnya melakukan langkah-langkah maksimal untuk memutus mata rantai tersebut," tegasnya.

"Berbagai reaksi kepanikan, tidak lah mesti direspon dengan tindakan berlebihan oleh pihak yang berkuasa karena pemimpin harus memahami suasana bathin masyarakat saat ini."

"Perhatikanlah 'Amru RA yang tidak menjawab pernyataan Abu Wailah, tapi tetap konsisten dengan langkah-langkah yang dilakukannya dengan perencanaan yang matang."

Umat Islam saat ini, tegasnya, tengah jalani sebuah ujian, apakah mereka akan bersikap "sami'na wa atha'na" kepada fatwa ulama, bila sampai ke tingkat harus menahan diri dari kegiatan berjamaah termasuk ber-Jumat sebagaimana umat yang mengikuti 'Amru Ibn al-'Ash ketika bergerak ke gunung-gunung dan perbukitan.

"Tentu, mereka tak berhenti beribadah tapi mereka mengambil petunjuk syari'at yang dicintai Allah SWT dalam kondisi sulit, apalagi darurat seperti itu," nukilnya.

"Bukankah mengambil rukhshah (dispensasi), bukanlah perbuatan yang dibenci Allah SWT bahkan ia dicintai Allah SWT," tambah Gusrizal.

Apalagi dalam kondisi darurat seperti sekarang. Bila tetap bersikukuh mengambil hukum ashal atau 'azimah, malah perbuatan itu akan menimbulkan mudharat lebih besar.

"Perhatikan hadits Rasulullah SAW yang terdapat dalam HR Imam Ahmad, Sesungguhnya Allah tabaraka watala menyukai ketika rukhshah dari-Nya diambil, sebagaimana Ia membenci tatkala maksiat kepada-Nya dilakukan," ungkapnya

Akhirnya, bila usaha maksimal telah ditempuh maka sebagai hamba-hamba yang beriman, umat Islam tentu tidak boleh bergeser dari prinsip keimanan sebagaimana tuntunan Allah swt dalam firman-Nya dalam QS al-Taubah 9:51 yang artinya, Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal." (kyo)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar