MITRA VALORA NEWS

Jumat, 2017-11-24 18:02 WIB

Penerbit Buku Rumahkayu Rilis Literatur Indonesia

<p>Penerbit Buku Rumahkayu Rilis Literatur Indonesia<p>

VALORAnews - Penerbit Buku Rumahkayu, merilis Literatur Indonesia (LINI), Kamis (23/11/2017) di Gubuk Coffee, Jembatan Kalawi, Kelurahan Kalumbuk,...

Kuliah Umum Universitas NU Sumbar Hadirkan Anggota DPR RI

Sumpah Pemuda Nyatakan Indonesia Tanpa Sekat, Alex: Saat Ini Kita Makin Terkotak

AI Mangindo Kayo | Sabtu, 28-10-2017 | 17:10 WIB | 274 klik | Provinsi Sumatera Barat
<p>Sumpah Pemuda Nyatakan Indonesia Tanpa Sekat, Alex: Saat Ini Kita Makin Terkotak<p>

Anggota Komisi V DPR RI, Alex Indra Lukman berbagi kisah tentang perjalan hidupnya saat mahasiswa di Jerman dengan civitas akademika Universitas NU Sumbar, Sabtu (28/10/2017). Kuliah umum ini digelar dalam rangka Sumpah Pemuda dan Hari Santri Nasional 2017. (mangindo kayo/valoranews)

VALORAnews - Pemuda di tahun 1928, menyatakan tekad tak ada sekat dan pembeda, terikat dalam sebuah bangsa atau nation-state. Hal itu ditandai dengan tiga maklumat yang dihasilkan pada Kongres Pemuda II yang dirumuskan pada 28 Oktober 1928. Saat ini, di era milenial, putra asli daerah (PAD) malah terus didengungkan dengan kencang, terutama disetiap kontestasi politik baik skala lokal hingga nasional.

Demikian dikatakan anggota DPR RI dari daerah pemilihan Sumbar I, Alex Indra Lukman saat memberikan kuliah umum di Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Sumbar, Sabtu (28/10/2017). Kuliah umum digelar dalam rangka Sumpah Pemuda dan Hari Santri Nasional 2017 dengan tema 'Peran Pemuda dalam Membangun Bangsa yang Berkeadaban.'

"Mirisnya, saat ini kita terus makin terkotak-kotak dalam cara (sistem pemilu-red) yang kita sepakati secara bersama-sama. Kalian lah generasi muda yang harus terus mencari solusi, agar bangsa ini terus bertahan. Karena, usia kami yang sudah beranjak tua ini, tak mungkin melebihi usia bangsa tercinta ini," pesan Alex pada civitas akademika UNU Sumbar.


Selain bicara tentang pemuda dan bangsa, Alex juga menekankan peliknya persoalan yang dihadapi generasi muda di era milenial. "Bangsa kita saat ini banyak melahirkan tingkat pengangguran dengan kualitas pendidikan cukup baik. Kalau di negara lain, pengangguran ini lebih banyak dihuni orang tak berpendidikan," terang Alex yang juga ketua DPD PDI Perjuangan Sumbar.

Alex pun berbagi kisah tentang dirinya saat bersekolah di Jerman pada 1990-1996. Bendahara Fraksi PDI Perjuangan DPR RI ini menuturkan, dirinya berangkat ke Jerman hanya dibekali orang tuanya dengan biaya hidup untuk satu bulan plus tiket pergi, tanpa tiket pulang.

"Sesampai di Jerman, saya harus memutar otak. Kendala pertama soal bahasa. Karena tak fasih bicara bahasa Jerman, maka saya memilih tinggal bersama orang sana, agar bisa berbahasa negara itu secara lebih cepat dengan biaya murah," kata Alex berkisah.

"Karena juga tak dibekali biaya hidup, mau tak mau, suka tak suka, saya harus bekerja. Akhirnya, saya jadi orang Indonesia yang bekerja di Jerman sembari kuliah. Bukan kuliah dengan menyambi kerja. Di negeri orang itu, saya merasa tak punya beban karena tak kenal dengan siapapun," tambah Alex.

"Adik-adik mahasiswa di sini, punya tantangan tersendiri jika bekerja sembari kuliah. Saat memilih akan jadi pekerja saat kuliah, maka kita kenal dengan lingkungan dan ini tantangan tersendiri," ungkap Alex mengisahkan perjalanan hidupnya, untuk menggugah mahasiswa UNU akan pentingnya mengubah cara pandang dalam mengarungi tantangan hidup.

Banyaknya mahasiswa di Indonesia yang berakhir jadi pengangguran, menurut Alex, disebabkan masih ada yang salah dengan sistem pendidikan tinggi di Indonesia. Untuk mengubahnya jadi lebih baik, Alex berpesan, hal itu jadi tugas generasi muda saat ini.

"Saat di Jerman, saya merupakan orang asing pertama dengan jabatan cukup strategis di Maskapai Lufthansa. Kuliah saya di bidang engginering pharmacy. Saat kembali ke Indonesia, malah jadi politisi," ungkap Alex.

"Tak simetrisnya antara pendidikan, pengalaman kerja dan jalan hidup ini, jamak terjadi di Indonesia. Namun, pengalaman selama di Jerman memberi saya pelajaran berharga soal cara pandang. Maka, merugi lah mahasiswa yang cara pandangnya masih seperti orang kebanyakan," tutur Alex.

Kuliah umum ini dibuka Ketua Tanfidziah PWNU Sumbar, Maswar didampingi Firdaus (Sekretaris PWNU Sumbar), Basrial Zuhri (Pjs Rektor Universitas NU Sumbar), Afriendi (Sekretaris BPP UNU Sumbar) dan pengurus lainnya. Juga hadir aktivis sejumlah badan otonom NU seperti PMII, IPPNU, Fatayat dan lainnya. (kyo)

Komentar