MITRA VALORA NEWS

Rabu, 2017-11-22 22:40 WIB

Padang Bentuk Lembaga Perlindungan Anak Berbasis Masyarakat

<p>Padang Bentuk Lembaga Perlindungan Anak Berbasis Masyarakat<p>

VALORAnews - Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Padang, membentuk Perlindungan...

Cakupan Pemeriksaan Kesehatan Reproduksi masih Rendah

AI Mangindo Kayo | Jumat, 10-11-2017 | 16:18 WIB | 97 klik | Kab. Padang Pariaman
<p>Cakupan Pemeriksaan Kesehatan Reproduksi masih Rendah<p>

Petugas medis Puskesmas Lubukalung, memeriksa warga yang akan menjalani test IVA, Kamis (9/11/2017). Test ini terkait deteksi dini kanker serviks. (istimewa)

VALORAnews - Masyarakat dampingan Lembaga Pengkajian Pemberdayaan Masyarakat (LP2M), bersiondoh melakukan tes IVA di Puskesmas Lubukalung, Kecamatan Lubukalung, Kamis (9/11/2017). Tes IVA ini dalam rangka meningkatkan kesadaran dan kepedulian perempuan terhadap hak kesehatan seksual dan kesehatan reproduksi, untuk mencegah berbagai penyakit reproduksi.

"Dari 31 orang yang mendaftar, hanya 22 orang yang dilakukan tes disebabkan tidak semua memenuhi syarat untuk pelaksanaan tes IVA. Jumlah tersebut walaupun cukup besar, namun masih jauh dari harapan," ungkap petugas Puskesmas Lubukaluang, Reza Mandasari.

Pemeriksaan IVA dilakukan sebagai upaya deteksi dini kanker leher rahim (serviks) bagi perempuan. Tes IVA dapat dilakukan dengan cepat, hanya 1 menit dan beberapa saat kemudian hasilnya diketahui. Tes IVA tanpa biaya yang mahal bahkan gratis bagi peserta Jaminan Kesehatan Nasional.


"Tes IVA dapat mendeteksi dini kanker leher rahim distadium awal, untuk dapat ditangani secara cepat sebelum berlanjut kestadium lebih lanjut yang dapat menyebabkan kematian," terangnya.

Reza melanjutkan, saat ini baru sekitar 30 persen masyarakat melakukan tes IVA dari 100 persen yang diharapkan pemerintah. Hal ini, menurutnya, disebakan masih lemahnya kesadaran masyarakat untuk melakukannya.

"Perempuan melakukan tes IVA masih jauh dari harapan, baru 30 persen dari 100 persen target pemerintah. Butuh penyadaran yang terus-menerus digalakkan ke masyarakat." terang Reza.

Sementara, aktivis LP2M, Sri Ambarwati, memang kesadaran perempuan terhadap pemeriksaan dini kanker rahim masih rendah, padahal kanker leher rahim salah satu penyebab terbesar bagi kematian perempuan. Hal ini dikarenakan masyarakat masih banyak yang belum tahu tentang pemeriksaan IVA. Baik itu soal manfaat dilakukan tes, dimana dilaksanakan dan bagaimana syaratnya.

Selain itu, menurutnya, bagi perempuan yang sudah tahu pun, enggan melaksanakan tes IVA karena masih menganggap tabu dan belum merasakan gejala apa-apa. Padahal, lanjutnya, kanker serviks stadium awal belum menampakkan gejala.

"Butuh pemahaman yang kritis terhadap perempuan terutama terkait hak reproduksi perempuan agar memahami tentang organ-organ perempuan serta pentingnya menjaga dan mencegah penyakit kesehatan perempuan," terang Sri Ambarwati.

Apalagi, lanjutnya, saat ini melalui program Jaminan Kesehatan Nasional sudah memberikan jaminan dalam bentuk pemeriksaan dan pengobatan gratis terhadap kesehatan reproduksi. Di antaranya, deteksi dan pengobatan kanker leher rahim. Tinggal lagi semua pihak harus ikut menyosialisasikan pemanfaatannya.

Dari 23 perempuan yang telah melaksanakan tes IVA, ada 22 orang yang dinyatakan negatif, 1 orang dinyatakan memiliki pembengkakan akibat infeksi.

"Satu orang yang mengalami masalah saat tes IVA akan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dan ditangani petugas medis," ungkap Reza, bidan Puskesmas Lubukalung.

Dari kebanyakan perempuan yang ikut melakukan pemeriksaan saat itu mengaku lega dan ingin mengajak perempuan lain untuk ikut melakukan hal yang mereka lakukan.

Salah seorang peserta tes IVA, Salnida (43) menyatakan lega, setelah melakukan pemeriksaan "Alhamdulillah saya lega, sebelumnya takut dengan bahaya dari kanker serviks dan takut jika terjadi padanya, semoga perempuan lain juga ikut melakukan tes IVA," terangnya. (rls/kyo)

Komentar

Berita Kab. Padang Pariaman