MITRA VALORA NEWS

Jumat, 2018-09-21 23:30 WIB

Inilah Penyebab Terbakarnya SPBU Sawahan, Pertamina Tunggu Uji Labfor Polri

<p>Inilah Penyebab Terbakarnya SPBU Sawahan, Pertamina Tunggu Uji Labfor Polri<p>

VALORAnews - Kebakaran di SPBU 14251519 di Jl Sawahan, Kelurahan Sawahan, Kecamatan Padang Timur, Jumat (21/9/2018) sekitar pukul 14.40 WIB, berawal...

Sopir Galian C Layangkan Protes ke Perusahaan Geothermal

AI Mangindo Kayo | Kamis, 22-02-2018 | 19:30 WIB | 381 klik | Kab. Solok Selatan
<p>Sopir Galian C Layangkan Protes ke Perusahaan Geothermal<p>

Sejumlah masyarakat Solsel yang tergabung dalam kelompok sopir armada pengangkut galian C, saat berdiskusi dengan perusahaan PT SEML, Kamis (22/2/2018). (diky lesmana/valoranews)

VALORAnews - Sejumlah masyarakat yang tergabung dalam kelompok sopir armada pengangkut material galian C, datangi kantor PT Supreme Energy Muara Laboh (SEML), Kamis (22/2/2018). Kedatangan mereka, menuntut agar mereka juga bisa menyuplai material galian C ke perusahaan geothermal itu.

Informasi yang dirangkum, para sopir ini tidak lagi diperbolehkan menyuplai material galian C ke perusahaan, dikarenakan tidak mengantongi izin galian C-nya. Sementara, dari hasil temuan mereka di lapangan, masih terdapat suplai galian C ke PT SEML dari pemasok material galian C yang tidak memiliki izin.

Koordinator sopir armada pengangkut galian C, Fauzi Damra mengatakan, saat ini dirinya beserta puluhan para sopir lainnya tidak dizinkan lagi memasok material galian C ke PT. SEML.


"Material kami ditolak dengan alasan ilegal. Sementara, sejak perusahaan ini berdiri sebagiannya sudah memakai material yang tak berizin. Ini suatu bentuk diskriminasi terhadap kami, karena yang lain bisa memasok material ilegal Sementara kami tidak," katanya saat diterima berdialog dengan perwakilan PT. SEML.

Menurutnya, sesuai dengan instruksi pemerintah dalam pembangunan insfrastuktur umum ini lebih mengutamakan kearifan lokal. Arti kata, masyarakat sekitar pembangunan mega proyek bernilai triliunan rupiah ini juga memberikan peluang kehidupan bagi warga lokal.

"Namun, jangan dibeda-bedakan. Kami hanya mencari kehidupan bukan kekayaan. Ini murni semua sebagai sopir bukan pengusaha," jelasnya.

"Jika perusahaan memang konsisten dengan kebijakan yang dipakai selama ini terkait menggunakan material yang berizin, maka kamipun tidak mempersoalkannya. Hanya saja, pihak perusahaan sendiri yang mengingkari kebijakan yang dibuat, tentu kami juga ingin menumpang hidup," akunya.

Dikatakan demikian, karena hingga kemarin sore (Rabu, red), pihaknya masih mendapati material tak berizin yang masuk ke perusahaan dengan memperlihatkan sejumlah bukti delivery order (DO) yang dikumpulkan dari sejumlah sopir yang membawanya. Tentu, sebutnya, hal itu menjadi sebuah anomali bagi masyarakat lokal yang sejatinya bakal terkena imbas langsung dari proyek panas bumi itu.

"Jika proyek ini gagal maka sudah pasti kami di sini yang bakal terkena imbasnya. Namun, perusahaan sendiri seakan menutup mata dengan menutup pintu rezeki kami dengan alasan perizinan ini," pungkasnya.

Melalui diskusi panjang dengan pihak perusahaan PT SEML yang turut dihadiri Kapolres Solsel AKBP Mochamad Nurdin dan jajarannya, masyarakat dengan profesi sopir dump truck tersebut menuntut agar ke depan dilibatkan sebagai penyuplai material.

"Kami tidak menuntut dan mengganggu operasional perusahaan di luar keterkaitan dengan material galian C ini. Kami meminta agar ikut dibawa serta menyuplai material," terang Fauzi.

"Selama belum ada keputusan terkait tuntutan itu, maka pasokan material galian C untuk perusahaan sementara dihentikan dulu. Jika tidak, maka saya tidak bertanggungjawab jika terjadi hal-hal yang tidak baik dilakukan oleh masyarakat ini nantinya," tegas Fauzi.

Sementara itu, Field Relation PT SEML, Bujang Joan Dt Panyalai menyebutkan, pihaknya atas nama perusahaan Supreme Energy menyayangkan tindakan para subcontractor perusahaan, yang membawa material yang diduga ilegal tersebut. Sebab, katanya, PT Supreme secara resmi tidak mengetahui perihal penggunaan material ilegal oleh para subcontractor itu.

"Ini sesuatu yang berada di luar pengawasan PT SEML. Padahal dalam kontrak kerja dengan para subcontractor ini, sudah ditegaskan untuk menggunakan material dari sumber yang legal. Tentu perusahaan tak sampai mengawal sampai titik mana subcontractor ini mengambil material," katanya.

Ke depan lanjutnya, pihak perusahaan akan melakukan pembenahan penggunaan material oleh para subcontractor tersebut.

Di sisi lain, terkait dengan tuntutan masyarakat tersebut, saat ini perusahaan PT. SEML belum bisa mengambil kebijakan. Hal itu katanya bakal dibicarakan terlebih dahulu dengan Pemda Solsel terkait aturannya.

"PT SEML tidak bisa memutuskan pemakaian material ilegal dan tentu perusahaan tidak akan mengangkangi aturan yang telah mengikat. Sepanjang ada kebijakan yang tidak akan menyeret perusahaan kepada sebuah pelanggaran, maka apa yang menjadi tuntutan masyarakat ini akan dipertimbangkan perusahaan," ujarnya.

Kemudian, tambahnya, PT. SEML bersedia jika dilakukan penempuhan jalur hukum terkait pengguna material ilegal sebagaimana yang dituduhkan masyarakat tersebut. Tujuannya agar diketahui bahwa bukan perusahaan PT. SEML yang melakukan hal itu.

Kapolres Solsel, AKBP Mochamad Nurdin didampingi Kabag Ops Polres Solsel Kompol Benu Alam menyebutkan, persoalan yang terjadi antara kelompok masyarakat itu dengan pihak PT SEML, diimbau untuk diselesaikan harus mengikuti aturan yang telah ada. Jika harus pemusatannya penyelesaiannya melalui Pemda, maka sarannya agar pihak PT SEML mau memfasilitasi pertemuan itu dan guna bermusyarah mencari penyelesaian.

"Namun, ada baiknya PT. SEML selaku perusahaan yang memiliki kuasa penuh untuk melakukan tindakan tegas. Agar, tidak ada lagi kisruh dimasyarakat," pungkasnya. (dky)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar