MITRA VALORA NEWS

Kamis, 2018-12-13 19:50 WIB

DPTHP Kedua Catatkan Ribuan Pemilih Tanpa Dokumen Kependudukan di Sumbar

<p>DPTHP Kedua Catatkan Ribuan Pemilih Tanpa Dokumen Kependudukan di Sumbar<p>

VALORAnews - Pemilih di Sumbar bertambah 76.242 orang setelah penetapan Daftar Pemilih Tetap Hasil Perbaikan Kedua (DPTHP-2) di Padang, Rabu...

Puspaga Malang Inisiasi Kelas Pendidikan Ayah Cegah Stunting

AI Mangindo Kayo | Rabu, 07-03-2018 | 17:16 WIB | 295 klik | Nasional
<p>Puspaga Malang Inisiasi Kelas Pendidikan Ayah Cegah Stunting<p>

Deputi Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Bidang Tumbuh Kembang Anak, Lenny N Rosalin memberikan materi pada lokakarya tentang stunting yang diselenggarakan di Kota Malang, 7-9 Maret 2018. (istimewa)

VALORAnews - Di Indonesia, 1 dari 3 anak di bawah usia lima tahun mengalami stunting yakni pertumbuhan fisik dan kognisi yang kurang optimal akibat kurang gizi sejak di dalam kandungan hingga usia dua tahun. Dengan angka ini, Indonesia berada di peringkat kelima negara dengan angka stunting tertinggi di dunia. Stunting juga dapat merugikan negara sebesar Rp300 triliun per tahun.

Selain faktor gizi, stunting disebabkan faktor multidimensi yang memerlukan peran semua pihak. Studi yang dilakukan oleh TNP2K (2017) menyebutkan bahwa praktik pengasuhan yang kurang baik juga memberikan kontribusi pada stunting.

Pelatihan pola asuh yang baik untuk nutrisi anak dan pengetahuan mengenai nutrisi ibu hamil menjadi penting untuk dilakukan, terutama dengan melibatkan Ayah yang memiliki peran yang setara dengan ibu untuk pengasuhan anak.


Sebagai upaya menurunkan dan mencegah stunting, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPP dan PA) bekerja sama dengan MCA-Indonesia melakukan uji coba modul untuk "Pelibatan Ayah dalam Pencegahan Stunting".

Hal ini sejalan dengan mandat KPP dan PA melalui Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) untuk memberikan pelayanan informasi bagi keluarga Indonesia utamanya untuk pemenuhan hak anak. Kegiatan ini dilakukan dalam lokakarya yang diselenggarakan di Kota Malang pada 7-9 Maret 2018 yang dihadiri pekerja profesional Puspaga dari Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, DIY, Tangerang dan Depok, selain perwakilan dari Kementerian terkait, Dinas Kesehatan, Kementerian Agama, serta pusat studi dan akademisi dari Kabupaten Malang.

Modul ini rencananya akan digunakan untuk meningkatkan kapasitas pekerja profesional Puspaga dan pihak terkait yang memiliki tugas pelayanan informasi bagi keluarga. Modul ini berisi pengasuhan anak dalam perspektif hak anak, relasi yang setara antara Ayah dan Ibu, makanan bergizi bagi ibu dan anak balita, serta cara mengelola keuangan keluarga agar dapat menyediakan makanan yang bergizi dalam 1000 hari pertama kehidupan. Diharapkan setelah lokakarya, profesional Puspaga diharapkan dapat langsung menerapkan ilmunya untuk memberikan layanan psiko-edukasi di Puspaga.

"Ayah memiliki tanggung jawab yang setara dengan ibu dalam mengasuh anak dan melakukan pekerjaan rumah tangga. Modul ini merupakan salah satu upaya MCA-Indonesia mendukung upaya pemerintah mencegah stunting dengan kebijakan responsif gender," ujar Direktur Inklusi Sosial dan Gender MCA-Indonesia, Dwi Rahayu Yuliawati-Faiz.

Modul kelas ayah mencakup langkah-langkah praktis yang harus dilakukan ayah pada berbagai tahapan, yakni sejak masa kehamilan ibu, pemberian ASI eksklusif, hingga anak tumbuh besar. Keterlibatan ayah - sebagaimana ditulis dalam modul ini- diharapkan dapat mencegah stunting dan meringankan beban pekerjaan ibu di rumah.

"Kelas ayah merupakan salah satu langkah strategis pencegahan stunting yang merangkul lebih banyak pihak. Hal ini melengkapi layanan konseling gizi yang telah ada baik bagi calon orang tua, orang tua dan orang yang bertanggung jawab terhadap anak serta layanan penjangkauan Puspaga. Kami mendorong setiap daerah minimal memiliki satu Puspaga sehingga para keluarga di wilayahnya memperoleh pembelajaran positif tentang hak anak," ujar Deputi Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Bidang Tumbuh Kembang Anak, Lenny N Rosalin.

Oleh karena itu, Puspaga memiliki peran strategis dalam mengurangi stunting, terutama dalam merangkul keluarga Indonesia untuk lebih peduli terhadap pemenuhan hak dan perlindungan khusus anak. Hal ini sejalan dengan Program KPP dan PA untuk mewujudkan Indonesia Layak Anak di tahun 2030 dan Generasi Emas 2045 yang terbebas dari stunting.

Diharapkan informasi dan program penjangkauan yang dilakukan di Puspaga akan memberi kontribusi terhadap terwujudnya generasi yang lebih sehat sebagai modal utama meningkatkan daya saing bangsa.

MCA-Indonesia adalah pelaksana Hibah Compact dari Millennium Challenge Corporation (MCC), yang mendukung Kemitraan Strategis Amerika Serikat dengan Indonesia. MCA-Indonesia bertujuan mengurangi kemiskinan melalui pertumbuhan ekonomi, dan bertindak sebagai lembaga pengelola tiga proyek utama yakni Kemakmuran Hijau, Kesehatan dan Gizi Berbasis Masyarakat untuk Mengurangi Stanting dan Modernisasi Pengadaan.

MCC adalah lembaga inovatif dan independen Pemerintah Amerika Serikat yang bertujuan membantu pengentasan kemiskinan secara global. Dibentuk oleh Kongres Amerika Serikat pada 2004, MCC telah menyalurkan Hibah Compact senilai US$ 11,2 miliar bagi 27 negara yang berkomitmen pada tata pemerintahan yang baik (good governance), kebebasan ekonomi, dan investasi pada warga negaranya. Hibah Compact bersifat kompetitif, artinya negara calon penerima hibah harus bersaing dalam proses seleksi yang transparan.

MCC memegang prinsip country-led solutions dan country-led implementation, sehingga negara pelaksana hibah memiliki keleluasaan dan wewenang untuk mengidentifikasi masalah dan solusinya, serta mengembangkan dan melaksanakan programnya. (rls)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar