MITRA VALORA NEWS

Selasa, 2018-08-21 17:18 WIB

Bus Tranek Terbakar di Malibou Anai Sore Ini

<p>Bus Tranek Terbakar di Malibou Anai Sore Ini<p>

VALORAnews - Satu unit bus antar kota dalam provinsi (AKDP) merk Tranek Mandiri, terbakar di kawasan Malibou Anai, Selasa (21/8/2018) sekitar pukul...

Digitalisasi di Indonesia Makin Massif, Yuliandre: Konten di Internet Nyaris Tak Terawasi

AI Mangindo Kayo | Kamis, 08-03-2018 | 08:26 WIB | 246 klik | Nasional
<p>Digitalisasi di Indonesia Makin Massif, Yuliandre: Konten di Internet Nyaris Tak Terawasi<p>

Ketua KPI, Yuliandre Darwis menyampaikan pandangannya seputar digitalisasi informasi pada Rakernis Humas Polri yang diselanggarakan di Jakarta, Kamis (7/3/2018). (humas)

VALORAnews - Ketua KPI Pusat, Yuliandre Darwis memaparkan, digitalisasi telah terjadi di Indonesia. Namun, kedepan, skalanya akan lebih massif. Sayangnya, Indonesia terlambat dalam merespon digitalisasi, bahkan tertinggal dari negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

"Yang jadi pertanyaan besar kita saat ini adalah bagaimana kesiapan Indonesia untuk menyiapkan penyusunan regulasi, sinergi antar stakeholders penyiaran serta posisi publik dalam menerima konten digital. Hal ini merupakan pekerjaan rumah bagi lembaga yang mempunyai tupoksi di ranah penyiaran dan informasi," ungkap Yuliandre pada Rakernis Humas Polri yang diselanggarakan di Jakarta, Kamis (7/3/2018).

Menurutnya, masyarakat Indonesia telah merasakan konvergensi media dengan kekuatan internet. Beragam informasi dengan mudah diakses publik melalui gadget yang dibawa kemana-mana. "Saat ini, belum ada yang mengawasi secara penuh konten yang ada di internet," terang Yuliandre.


Dalam diskusi publik itu, Yuliandre tampil memberikan materi bersama Dirjen Informasi Kominikasi Publik Kemenkominfo, Rosarita Niken Widiastuti, Yosep Adi Prasetyo (Ketua Dewan Pers) dan Gede Narayana (Wakil Ketua KIP).

Diskusi panel yang menghadirkan tokoh-tokoh dari lembaga negara terkait media dan informasi ini merupakan rangkaian dari Rakernis Polri yang telah berlangsung sejak Selasa (6/3/2018), dengan mengangkat isu digitalisasi dan isu penyiaran pilkada. Diskusi yang berlangsung selama dua jam ini memaparkan pandangan-pandangan dan solusi dari stakeholder negara yang bertanggungjawab pada ranah media dan informasi.

Sementara itu, Yosep Adi Prasetyo mengatakan, banyak media abal-abal ada di daerah. Media tersebut tidak terdaftar di Dewan Pers dan juga tidak memiliki kompetensi dalam menjalankan fungsi pers.

Yosep mengharapkan, polisi bisa melakukan tindakan terhadap media yang dianggap meresahkan dengan menyebar berita hoaks.

Rosarita Niken Widiastuti menambahkan, pertumbuhan media terutama media sosial di Indonesia sangat massif. Dia menggarisbawahi berita hoaks yang disebarkan di media sosial jadi musuh bersama. "Kominfo serta instansi terkait terus melakukan kampanye positif untuk melawan hoaks," terangnya.

Acara yang diakhiri dengan foto bersama dari semua narasumber dan juga Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Setyo Wasisto ini, jadi momen untuk menegaskan lembaga negara dan kepolisian siap untuk mengawal informasi publik agar kondusif dan proposional. (rls/kyo)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar