MITRA VALORA NEWS

Senin, 2018-10-22 16:52 WIB

Panitia Lokal TdS Solsel Khawatirkan Kondisi Jalan jelang Titik Finish

<p>Panitia Lokal TdS Solsel Khawatirkan Kondisi Jalan jelang Titik Finish<p>

VALORAnews - Panitia pelaksana Tour de Singkarak (TdS) etape 7 tahun 2018 Solok Selatan, nyatakan siap menghelat iven tahunan itu. Kesiapan...

Home » Gagasan

Makanan dalam Konteks Amar Ma'ruf dan Nahi Munkar

Kamis, 2018-06-07 | 23:10 WIB | 182 klik
<p>Makanan dalam Konteks Amar Ma'ruf dan Nahi Munkar<p>

Iqbal Tarigan

Menteri Komunikasi & Informasi BEM KM Unand

Dari berbagai literasi dan ceramah yang coba saya simpulkan, sejarah awal mula Amar Ma'ruf Nahi Munkar memiliki usia yang tidak jauh berbeda dengan sejarah umat manusia. Ya, lebih tua manusia beberapa waktu.

Amar yang berarti perintah dan nahi yang berarti larangan, untuk pertama kalinya dikatakan oleh Allah SWT kepada manusia pertama, Nabi Adam AS saat ia tinggal di surga bersama Ibunda Hawa, peristiwa itu diceritakan oleh surah Al Baqarah ayat 35/

Dan Kami berfirman, "Wahai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga dan makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu, (tetapi) jangan engkau dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim!


Ternyata amar dan nahi yang pertama kali dalam sejarah umat manusia itu adalah soal makan. Inilahs oalan yang memang jadi kebutuhan dasar, selera dan gaya hidup setiap manusia. Ini juga soalan yang membuat manusia bisa bertikai, berselisih, gontok-gontokan bahkan sampai pada ranah kriminal.

Uniknya, ramadhan justru memaksa kita untuk melakukan kontrol ketat untuk persoalan makanitu.

Marilah kita lihat contoh dari para Ashabul Kahfi, para pemuda yang terpaksa mengungsi ke sebuah goa daerah Yordania karena kejaran pemerintah yang zalim. Mereka kemudian terbangun setelah 300 tahun lebih lamanya sebagai mana diceritakan oleh surat Al Kahfi.

Wajar saja mereka merasa begitu lapar. Lalu diutuslah satu diantara mereka menuju kota untuk membeli sesuatu yang bisa dimakan. Sebelum berangkat, ashabul kahfi yang tinggal sempat masih sempatnya berpesan,

"Falyanzhur Ayyuhaa Azka, Hendaklah lihat mana makanan yang paling baik." Masih sempat berfikir untuk menjaga makanan. Kalau kita barangkali sudah terserah saja, yang penting bisa dimakan.

Ramadhan mendidik kita memiliki kemampuan untuk tidak sekadar memilih makanan yang halal, namun juga mengontrol dengan parameter Thoyyibah. Karena halal saja tidak cukup. Halal hanyalah segala sesuatu yang Allah perintahkan, namun baik sebuah makanan sangat bergantung pada kondisi setiap manusia. Sederhana, bagi kami mahasiswa tentu mengonsumsi daging, telur atau susu adalah gizi yang luar biasa.

Namun berbeda kebolehannya, jika yang menikmati adalah Sang Ayah yang ternyata berkadar kolesterol jahat yang tinggi. Inilah Taqwa. Pandai menjaga. Mampu mengelola diri. Bisa mengarahkan nafsu.

Sesuai amar, sesuai nahi yang Allah inginkan. Dan taqwa sangat dekat dengan kemenangan. Berkacalah dari sejarah Kemerdekaan Indonesia yang juga diberkahi di bulan Ramadhan. Ingatlah momentum Perang Badar, ketika 313 kaum muslimin kemudian menang atas 1000 pasukan lawan lawannya.

Puasa melatih mukmin hinggai selesai (beres) dengan dirinya sendiri. Akhirnya ia bisa mengontrol situasi dan kondisi disekitarnya. Inilah kacamata keimanan yang hendaknya kita gunakan saat sedang berpuasa. (*)

Komentar

Gagasan lainnya

<p>Hari Tani Nasional dan Prakarsa Desa<p> Senin, 24-09-2018 15:38 WIB

Hari Tani Nasional dan Prakarsa Desa

oleh: Indra Sakti Lubis
Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI)
<p>Kisah Keluarga Ibrahim dan Imran<p> Rabu, 23-05-2018 14:48 WIB

Kisah Keluarga Ibrahim dan Imran

oleh: Irsyad Syafar
Pendidik di PIAR
<p>Kisah dan 'Ibrah<p> Jumat, 18-05-2018 01:17 WIB

Kisah dan 'Ibrah

oleh: Irsyad Syafar
Pendidik di PIAR
<p>Kemana Haluan Pak Gubernur Irwan?<p> Selasa, 01-05-2018 18:17 WIB

Kemana Haluan Pak Gubernur Irwan?

oleh: Faldo Maldini
Inisiator Gerakan #KamiHaluan