MITRA VALORA NEWS

Senin, 2019-07-15 19:05 WIB

Penyandang Disabilitas Padang Difasilitasi UEP

<p>Penyandang Disabilitas Padang Difasilitasi UEP<p>

VALORAnews - Pemerintah Kota Padang terus meningkatkan kemandirian dan produktivitas ekonomi para penyandang disabilitas. Melalui Dinas Sosial, para...

Home » Gagasan

Mengapa Saya Menolak DIM

Senin, 2019-02-25 | 10:55 WIB | 249 klik
<p>Mengapa Saya Menolak DIM<p>

Dr Emeraldy Chatra Dt R Malano

Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Unand

Berikut ini adalah empat alasan mengapa saya tidak setuju dan menolak gagasan Daerah Istimewa Minangkabau (DIM).

Pertama, DIM berpotensi memecahbelah orang Minang, membuat pertentangan antara yang setuju dengan yang tidak. Mustinya yang digagas itu gerakan yang dapat mempersatukan, mendamaikan. Banyak penentang DIM di Sumbar yang tidak diketahui penggagas.

Kedua, gagasan DIM adalah gagasan orang-orang yang ingin menghadirkan orang dengan privilege dalam bungkus budaya Minangkabau. Itu bukan kebutuhan orang Minangkabau saat ini. Kalau kita tanya kepada banyak orang apa yang mereka butuhkan, maka jawaban yang akan mendominasi adalah bagaimana keluar dari kesulitan hidup. Ekonomi merosot.


Banyak orang tidak punya pekerjaan, padahal berpendidikan, bahkan sudah S2. Lihatlah data statistik pengangguran terdidik. Sekarang sarjana banyak yang jadi driver ojek online. Masalah seperti ini tidak dapat diselesaikan dengan mendirikan DIM.

Ketiga, masalah moral masyarakat yang merosot (banyaknya perzinahan, narkoba, LGBT, miras, dll) tidak dapat diatasi dengan mendirikan DIM. Tidak pernah ada pemerintahan di zaman ini yang benar-benar berhasil menghapus kemaksiatan. Moral itu masalah jalan pikiran orang. Jalan pikiran itu yang harus dibenahi. Bukan dengan mendirikan DIM.

Keempat, para penggagas DIM umumnya orang yang tidak dikenal masyarakat Sumbar. Kelompok intinya adalah orang-orang Minang yang hidup di rantau, yang umumnya tidak benar-benar paham dengan kondisi masyarakat Minangkabau sekarang ini.

Oleh karena nama mereka tidak dikenal, orang Minangkabau di kampung juga tidak kenal track-record mereka. Otomatis juga tidak dapat mengerti apa sesungguhnya maksud mereka di balik retorika yang disampaikan.

Inti dari masalah yang kita hadapi saat ini bukanlah tata pemerintahan. Tapi budaya, pikiran masyarakat yang sudah jauh dari harapan. Meluruskan pikiran ini yang musti dikerjakan lebih dulu.

Contohlah Nabi Muhammad. Apa yang pertama kali beliau kerjakan adalah merubah jalan pikiran orang. Beliau mengajarkan tauhid kepada para penyembah dewa-dewa. Pindah dari paham pagan kepada tauhid itu adalah revolusi berpikir.

Tidak mudah bagi orang Arab yang sudah ratusan bahkan ribuan tahun menyembah patung meyakini bahwa Allah itu tunggal.

Sampai meninggal pun Rasulullah tidak memikirkan tata pemerintahan. Beliau masih berjuang membersihkan pikiran yang sesat dan menegakkan syariat Islam. Setelah beliau wafat barulah dilakukan penataan institusi pemerintahan. Itu pun tidak dibuat menjadi tata pemerintahan yang kompleks. Sederhana saja.

DIM itu, kritik saya, tidak mulai dari pembersihan pikiran orang Minang. Tapi membuat struktur. Jadi kapan pikiran yang membawa kemaksiatan itu dibersihkan? Sementara pikiran sesat itu berpotensi meruntuhkan struktur yang sudah dibangun. Di sini saya menemukan adanya kesalahan dalam berpikir. [*]

Komentar

Gagasan lainnya

<p>Bangun Ekonomi Umat dengan Sedekah<p> Jumat, 17-05-2019 12:11 WIB

Bangun Ekonomi Umat dengan Sedekah

oleh: Dr Emeraldy Chatra Dt Rajo Malano
Pendiri dan Ketua Komunitas Merawahijau
<p>Hari Tani Nasional dan Prakarsa Desa<p> Senin, 24-09-2018 15:38 WIB

Hari Tani Nasional dan Prakarsa Desa

oleh: Indra Sakti Lubis
Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI)
<p>Makanan dalam Konteks Amar Ma'ruf dan Nahi Munkar<p> Kamis, 07-06-2018 23:10 WIB

Makanan dalam Konteks Amar Ma'ruf dan Nahi Munkar

oleh: Iqbal Tarigan
Menteri Komunikasi & Informasi BEM KM Unand
<p>Kisah Keluarga Ibrahim dan Imran<p> Rabu, 23-05-2018 14:48 WIB

Kisah Keluarga Ibrahim dan Imran

oleh: Irsyad Syafar
Pendidik di PIAR

Berita Terbaru

Berita Terpopuler