MITRA VALORA NEWS

Home » Gagasan

Bangun Ekonomi Umat dengan Sedekah

Jumat, 2019-05-17 | 12:11 WIB | 49 klik
<p>Bangun Ekonomi Umat dengan Sedekah<p>

Dr Emeraldy Chatra Dt Rajo Malano

Pendiri dan Ketua Komunitas Merawahijau

Saya memaknai kalimat Allah, yam haqullahur riba wayurbi sadoqaati (Al Baqarah 276) sebagai sebuah petunjuk bahwa ekonomi berbasis riba akan hancur dan sebaliknya ekonomi berbasis sedekah akan tumbuh dengan subur. Secara logika apa yang dikatakan Allah sangat dapat diterima. Ekonomi berbasis riba cenderung menghisap, sehingga suatu ketika kemampuan ekonomi masyarakat akan menurun. Disitulah akan muncul kehancuran.

Kehancuran itu sudah terjadi, dibuktikan dengan banyaknya orang miskin atau terus-menerus berada di ambang kemiskinan. Mereka orang yang mendekati miskin hidup pas-pasan saja, dengan sedikit tabungan -- bahkan ada yang dililit hutang -- dan tidak mampu membeli secara tunai benda-benda yang dibutuhkan rumah tangga.

Di pihak lain ada sekelompok kecil orang yang menguasai sumber daya ekonomi dalam jumlah yang luar biasa. Mereka bukan main kayanya. Mereka mampu membeli apa saja, termasuk kekuasaan yang dimiliki pejabat negara. Semua itu akibat penghisapan yang ditopang oleh sistem riba.


Ketimpangan ekonomi yang hebat ini tidak lain karena umat Islam tidak punya kemampuan mengoptimalisasi sedekah. Tidak pula mampu membangun ekonomi berbasis sedekah. Padahal kalau firman Allah ditindaklanjuti dengan mengonstruksi sistem ekonomi berbasis sedekah umat Islam akan dapat keluar dari masalah ekonomi yang menderanya.

Saya juga memaknai kalimat Allah yam haqullahur riba wayurbi sadoqaati sebagai petunjuk bagaimana menghancurkan ekonomi berbasis riba. Caranya, dengan sedekah. Bukan dengan zakat (sehingga Allah tidak mengatakan wayurbi zakaati) atau infak yang utama.

Alasannya karena sedekah punya makna yang lebih luas daripada zakat. Sedekah tidak musti berupa uang atau benda-benda berharga. Perkataan yang baik, senyuman, nasehat kepada kebaikan dan sumbangan tenaga dapat juga menjadi sedekah. Sepanjang semuanya diberikan sebagai bukti keimanan kepada Allah maka ia menjadi sedekah.

Dalam memerangi ekonomi berbasis riba tidak cukup hanya dengan bermodalkan uang, tapi harus menghimpun modal-modal lain seperti modal sosial, modal kultural dan modal ilmu pengetahuan. Semua bentuk sedekah diperlukan dalam memerangi ekonomi berbasis riba.

Penerima sedekah tidak pula dibatasi hanya kepada orang miskin. Sedekah dapat diberikan kepada lembaga-lembaga yang bergerak untuk jihad dalam berbagai bidang: pendidikan, kesehatan, keamanan, keadilan, sampai pada gerakan yang bertujuan memerangi riba.

Tidak demikian dengan zakat. Penerimanya sudah ditentukan (At Taubah 60). Zakat pun hanya berupa materi (uang, emas, bahan makanan), tidak termasuk jasa dan ucapan-ucapan yang baik.

Sudah Memulai

Saya tidak tertarik dengan kerusuhan kata-kata. Saya lebih suka memikirkan solusi. Riba memang menghancurkan. Itu alat bagi Yahudi menghancurkan goyim (non-Yahudi) sesuai dengan Kitab Taurat yang mereka pegang. Mereka membuat bank-bank riba, sementara mereka sendiri berpantang memakannya.

Oleh sebab itu, sejak pertengahan tahun 2018 saya sudah membangun sebuah komunitas yang diberi nama Merawahijau. Anggotanya masih sekitar 50 orang. Belum ada aktivitas ekonomi. Baru sekedar membangun silaturahmi dan kesepahaman. Nanti bila anggota sudah sampai 1.000 orang barulah gerakan ekonomi berbasis sedekah dijalankan. Sekarang badan hukumnya sedang diurus.

Nama Merawahijau dibangun dari kata merawa dan hijau. Merawa itu simbol Minangkabau, dan hijau simbol Islam. Jadi Merawahijau adalah 'nama lain' dari Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi ka Kitabullah (ABS-SBK). Memang cita-citanya membangun ekonomi Islam di Minangkabau supaya ABS-SBK tidak selalu dicap sebagai omong kosong.

Inti gagasannya, ekonomi dibangun dengan sedekah. Digerakan oleh sedekah. Bukan riba. Kalau saja ada 10.000 dari 900.000 penduduk Kota Padang mau bersedekah rutin Rp100 ribu/bulan, tiap bulan Merawahijau akan mendapatkan kucuran dana Rp100 juta. Setahun Rp1,2 miliar.

Wow!...Bayangkan kalau anggota berkembang jadi 100.000 orang. Tentu akan lebih banyak lagi.

Setelah masuk ke komunitas, dana itu jadi milik Allah. Bukan milik siapa-siapa lagi. Bukan milik pemberi sedekah. Bukan pula milik Merawahijau. Pengurus Merawahijau harus mengelola milik Allah itu untuk kemaslahatan umat. Tapi Merawahijau dapat menjadikannya seperti pusako tinggi yang tidak boleh dikurangi, hanya boleh digunakan untuk memperoleh manfaat.

Dana yang terkumpul selanjutnya didistribusikan kembali kepada anggota yang membutuhkan tambahan modal. Bisa berbentuk kerjasama (syirkah), dapat pula berbentuk pinjaman tanpa bunga. Pengguna dana dapat memilih mana yang membuat mereka lebih nyaman. Dana itu juga dapat dihibahkan sebagian untuk anggota yang benar-benar terdesak, misalnya karena sakit atau dapat musibah.

Dengan dana itu Merawahijau dapat pula membantu anggota untuk mendapatkan kendaraan atau rumah tanpa dibebani bunga bank. Merawahijau membelikan untuk anggota yang butuh, kemudian mereka mencicilnya. Tentu harga jadi lebih murah.

Oleh karena uang sedekah yang dikumpulkan anggota tidak dihabiskan untuk konsumsi tentu jumlahnya akan terus bertambah. Uang itu kelak akan menjadi sumber kekuatan ekonomi komunitas karena dapat digunakan untuk membangun berbagai jenis usaha bersama.

Prospek

Saya sangat yakin, kalau ekonomi berbasis sedekah dikembangkan di bumi Minangkabau hidup masyarakat akan berubah. Di Minangkabau ini terdapat lebih 500 nagari. Kalau setiap nagari punya cabang Merawahijau, bank-bank riba yang beroperasi di nagari itu akan kolaps atau merubah sistem operasional mereka menjadi benar-benar syar'i.

Dengan adanya cabang Merawahijau di tiap nagari, kemudian setiap cabang terhubung satu sama lain, Minangkabau akan memasuki era tanpa riba. Sebuah perubahan besar yang kita tunggu selama ini.

Bayangkan, kalau kita punya proyek perumahan tanpa riba yang membutuhkan dana Rp 10 Miliar, kita dapat meminjam dari cabang-cabang Merawahijau yang 500 tadi masing-masing Rp 20 juta. Dengan uang itu kita dapat membangun dan menjual rumah dengan harga murah karena tidak menghitung bunga bank.

Tentu akan lebih mencengangkan lagi kalau tiap cabang Merawahijau dapat memberi pinjaman masing-masing Rp100 juta. Kita dapat mengelola proyek yang nilainya Rp50 Miliar. Demikianlah seterusnya.

Penutup

Konsep ekonomi yang diusung oleh Merawahijau merupakan aplikasi dari tuntunan Allah dalam Quran yang dirimu dengan kearifan budaya Minangkabau. Boleh juga disebut sebagai konsep ekonomi ABS-SBK.

Konsep ini berpijak pada keyakinan bahwa membangun ekonomi tidak dapat dilepaskan dari tuntunan Allah. Di antaranya jauhi riba dan jangan menumpuk kekayaan. Kemudian jalin silaturahmi, jangan berpecah belah, dan saling menasehati untuk kebaikan. Insyaa Allah apa yang diperoleh dari sistem seperti ini akan mendapat berkah dari Allah ta'ala.

Padang, Januari 2019. (*)

Komentar

Gagasan lainnya

<p>Mengapa Saya Menolak DIM<p> Senin, 25-02-2019 10:55 WIB

Mengapa Saya Menolak DIM

oleh: Dr Emeraldy Chatra Dt R Malano
Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Unand
<p>Hari Tani Nasional dan Prakarsa Desa<p> Senin, 24-09-2018 15:38 WIB

Hari Tani Nasional dan Prakarsa Desa

oleh: Indra Sakti Lubis
Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI)
<p>Makanan dalam Konteks Amar Ma'ruf dan Nahi Munkar<p> Kamis, 07-06-2018 23:10 WIB

Makanan dalam Konteks Amar Ma'ruf dan Nahi Munkar

oleh: Iqbal Tarigan
Menteri Komunikasi & Informasi BEM KM Unand
<p>Kisah Keluarga Ibrahim dan Imran<p> Rabu, 23-05-2018 14:48 WIB

Kisah Keluarga Ibrahim dan Imran

oleh: Irsyad Syafar
Pendidik di PIAR