MITRA VALORA NEWS

Selasa, 2020-06-30 21:03 WIB

Garegeh Ditetapkan jadi Kampung Tangguh Nusantara

<p>Garegeh Ditetapkan jadi Kampung Tangguh Nusantara<p>

VALORAnews - Kelurahan Garegeh jadi pilot project(percontohan) Kampung Tangguh Nusantara. Program ini juga mendapat dukungan Babinkantibmas, Babinsa...

Penderita Covid19 Terus Bertambah

Server Aplikasi Vidcon di Luar Negeri, Kejahatan Siber Mengintai

AI Mangindo Kayo | Rabu, 17-06-2020 | 17:40 WIB | 335 klik | Nasional
<p>Server Aplikasi Vidcon di Luar Negeri, Kejahatan Siber Mengintai<p>

Ilustrasi.

VALORAnews - Pemerintah mesti bertindak cepat, mengantisipasi terjadinya kejahatan siber (cyber crime) seiring makin maraknya penggunaan aplikasi video confrence (Vidcon) yang bisa diunduh melalui perangkat komputer, tablet dan ponsel berbasis iOS maupun Android di Indonesia.

Hal itu ditegaskan Ketua Asosiasi Advance Simulator dan Technology (ASITech) Indonesia, Rivira Yuana dalam pernyatan tertulisnya, Rabu (17/6/2020), menyikapi fenomena maraknya penggunaan aplikasi Vidcon di masa pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid19). Tak hanya pemerintah, lembaga pendidikan, swasta hingga pertemuan reuni pun, telah memanfaatkan aplikasi yang tersedia secara gratis maupun berbayar itu.

"Kita punya perangkat hukum mencegah kejahatan siber yaitu Peraturan Pemerintah (PP) No 71 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik. Meski tidak mudah, tapi bisa dilakukan asal ada konsistensi dalam penerapan PP 71/2019 tersebut," ungkap Rivira Yuana.


Kekhawatiran Rivira ini, tak lepas dari minimnya kesadaran para pembuat keputusan di instansi pemerintah, terkait keamanan data negara maupun masyarakat yang ada di dunia maya.

Diketahui, aplikasi Vidcon marak digunakan sejak pandemi Covid19 melanda Indonesia dan berbagai belahan negara lainnya di dunia. Nyaris semua aplikasi Vidcon tersebut, peladennya (server-red) berada di luar negeri.

Secara teknis, setiap orang yang bisa mengakses secara fisik ke peladen berikut jaringannya, akan sangat mudah melakukan apa pun terhadap isi peladen atau jaringan tersebut. Mulai dari pencurian data, monitoring lalu lintas data, pengopian data server, bahkan dengan merusak semua data dan sistem jaringan.

"Memindahkan server dari luar ke dalam negeri, memang tidak mudah. Tapi, hal itu tidak bisa jadi alasan selama pihak yang bertanggungjawab terus melakukan sosialisasi, terutama Kementrian Komunikasi dan Informatika sebagai leading sector bidang teknologi informasi," tegasnya.

Dalam Pasal 20 Ayat 2 PP No 71 Tahun 2019 disebutkan, "Penyelenggara Sistem Elektronik Lingkup Publik wajib melakukan pengelolaan, pemrosesan, dan/atau penyimpanan Sistem Elektronik dan Data Elektronik di wilayah Indonesia."

"Sudah seharusnya server-server aplikasi video conference yang bersifat publik terutama yang digunakan instansi pemerintah, wajib berada di Indonesia. Jika masih dibiarkan di luar negeri, quo vadis PP No 17 Tahun 2019 ini," tegasnya.

Keseimbangan Ekonomi dan Kesehatan

Wakil Ketua ASITech Indonesia, Toni Surakusumah memperkirakan, di waktu kedepan, penggunaan aplikasi Vidcon akan makin tinggi frekwensinya. Hal ini tak lepas dari wabah Covid19 yang menyerang Indonesia pada awal Maret 2020 lalu, masih terus menyebar sangat cepat ke seluruh wilayah nusantara.

Data covid19.go.id per tanggal 16 Juni 2020, warga yang positif terjangkit Covid19 telah mencapai angka 40.400. Yang sembuh (15.703 orang), meninggal (2.231 orang). Sampai saat ini, tambah dia, vaksin untuk pengobatan Covid19 juga belum ditemukan, sehingga semua elemen harus tetap waspada.

Segala upaya telah dilakukan pemerintah menangani penyebaran dan penyembuhan masyarakat yang terpapar, mulai dari penerapan social distancing, Work From Home (WFH), Learn From Home (LFH) dan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Ratusan triliun juga dikucurkan demi memutus rantai penyebaran Covid19.

"Para pengamat ekonomi telah sepakat, kesehatan dan ekonomi jadi sebuah 'trade off' yang harus dijaga secara hati-hati keseimbangannya. Jika alokasi biaya telalu besar pada bidang kesehatan, maka hal ini dapat berdampak buruk pada perekonomian," terangnya.

"Pada akhirnya, hampir semua negara berkembang memilih teori 'survival of the fittest' secara tidak langsung, di mana 'gap' antara kesehatan dan perekonomian harus dibuat lebih sempit lagi," tambah dia.

Pandemik Covid19 ini, menurut Toni, juga telah mengubah secara dramatis wajah pekonomian, perindustrian, pendidikan, kesehatan dan tatanan kehidupan masyarakat Negara Republik Indonesia. Lebih jauh lagi, pandemik juga telah banyak mengubah tatanan kebiasaan normal sebelumnya yang populer dengan istilah menuju ke arah "new normal."

Ditambahkan Dewan Pengarah ASITech Indonesia, Alex Indra Lukman, lembaganya ini siap menjawab tantangan 'new normal' yang lebih efisien dan berdaya saing. "Kami siap bergotong-royong bersama semua elemen masyarakat, dalam menghadapi wabah ini khususnya di dunia teknologi informasi," terangnya.

"ASITech Indonesia siap mendukung dan jadi wadah kolaborasi dan sinergi sumber daya dalam negeri untuk menghadirkan aplikasi 'video conference' dan juga aplikasi daring lainnya yang lebih aman, efisien dan berdaya saing," tambah Alex.

Kolaborasi startup dan BUMN yang jadi anggota ASITech Indonesia, ungkap dia, dapat menjadi kekuatan unik, dimana berbagai model bisnis diharapkan memenuhi kebutuhan mayoritas konsumen di Indonesia, terutama konsumen yang sudah memahami pentingnya akan keamanan data.

Dengan semangat tersebut, diharapkan kedepannya ASITech Indonesia bisa memberikan solusi bagi sektor publik, instansi pemerintah dan berbagai pihak untuk menghadapi new normal ini dengan tetap melakukan berbagai aktivitasnya dari rumah, dengan tetap mengedepankan keamanan data sekaligus memacu pertumbuhan bisnis-bisnis baru disektor IT. (rls/kyo)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar