MITRA VALORA NEWS

Kamis, 2020-08-06 19:53 WIB

Empat Kelahiran di Malalak, Seorang Penderita Stunting

<p>Empat Kelahiran di Malalak, Seorang Penderita Stunting<p>

VALORAnews - Wakil Bupati Agam, Trinda Farhan Satria menilai, stunting bisa ditekan melalui gerakan bersama. Tapi, jangan pernah sekali-kali...

Peretas Kacaukan Sosialisasi Virtual KPU Sumbar, Taufik: Tabungan Wasangka Publik ke KPU Makin Besar

AI Mangindo Kayo | Senin, 22-06-2020 | 15:47 WIB | 116 klik | Provinsi Sumatera Barat
<p>Peretas Kacaukan Sosialisasi Virtual KPU Sumbar, Taufik: Tabungan Wasangka Publik ke KPU Makin Besar<p>

Sosiolog Universitas Islam Negeri Imam Bonjol (UIN IB) Padang, Muhammad Taufik.

VALORAnews - Sosiolog Universitas Islam Negeri Imam Bonjol (UIN IB) Padang, Muhammad Taufik melihat, KPU masih belum melakukan langkah-langkah pembenahan yang terukur, mengikis wasangka masyarakat pada lembaga penyelenggara Pemilu, di tahapan lanjutan pemilihan serentak 2020 ini.

Hal itu dikatakan Muhammad Taufik, terkait terdengarnya kata-kata jorok yang diiringinya munculnya gambar porno di layar gawai peserta sosialisasi Peraturan KPU No 5 Tahun 2020 yang digelar KPU Sumbar melalui aplikasi zoom cloud meeting, Senin (22/6/2020).

Insiden ini, menurut Taufik yang juga ketua Masika ICMI Sumbar itu, makin memperbesar tabungan wasangka publik. Dimana, sebelumnya opini publik juga sudah makin keropos ke KPU.


"Walau insiden zoombombing ini bisa terjadi pada siapa saja, kita berharap KPU tidak 'cuci tangan.' Kejadian ini, mungkin saja akan terjadi pada kegiatan dengan metode serupa oleh lembaga lain atau sejenis. KPU mesti punya grand scenario serta langkah antisipatif terhadap kejahatan dunia siber. Publik menunggu hal itu, saat ini," tegas Taufik.

Sosialisasi Peraturan KPU 5/2020 ini diikuti perwakilan partai politik, Pemprov dan Forkopimda Sumbar serta jurnalis cetak, siber dan elektronik. Insiden zoombombing ini terjadi saat sesi tanya jawab tengah berlangsung, sekitar pukul 12.27 WIB. Sekitar lima menit lebih, ruangpertemuan di dunia maya itu dikuasai peretas (hacker).

Menurut Taufik, semestinya KPU mulai dari pusat hingga daerah, memetik pelajaran berharga dari peristiwa rekapitulasi penghitungan suara yang juga dilakukan secara digital pada Pemilu 2019 lalu.

"Walaupun rekapitulasi digital saat itu hanya sebatas menjawab kebutuhan publik atas perjalanan perolehan suara pemilu, bukan berarti KPU tidak punya beban untuk mengelolanya secara paripurna. Sama kita lihat, kekacauan rekapitulasi perolehan suara secara digital itu, akhirnya menimbulkan kegaduhan yang tak perlu," terang Taufik.

Diberitakan, saat KPU Sumbar menggelar sosialisasi Peraturan KPU No 5 Tahun 2020, sekitar pukul 12.27 WIB terjadi insiden zoombombing. Saat sesi tanya jawab dengan peserta sosialisasi yang digelar menggunakan aplikasi zoom cloud meeting itu, tampilan layar tiba-tiba berganti gambar porno. Juga sempat terdengar kata-kata jorok.

Sontak, sosialisasi yang dihadiri perwakilan partai politik, perwakilan Pemprov dan Forkopimda Sumbar serta jurnalis cetak, siber dan elektronik itu, jadi gaduh. Sekitar 5 menit lebih, peretas sempat menguasai forum sosialisasi virtual itu. Peretas mengirimkan sejumlah file video dan suara dalam meeting, sehingga mengganggu proses sosialiasi online itu. (kyo)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar