MITRA VALORA NEWS

Kamis, 2020-08-06 19:53 WIB

Empat Kelahiran di Malalak, Seorang Penderita Stunting

<p>Empat Kelahiran di Malalak, Seorang Penderita Stunting<p>

VALORAnews - Wakil Bupati Agam, Trinda Farhan Satria menilai, stunting bisa ditekan melalui gerakan bersama. Tapi, jangan pernah sekali-kali...

Pertumbuhan Ekonomi Sumbar Melambat Sepanjang 2020, Begini Prakiraan BI

AI Mangindo Kayo | Senin, 29-06-2020 | 19:45 WIB | 103 klik | Provinsi Sumatera Barat
<p>Pertumbuhan Ekonomi Sumbar Melambat Sepanjang 2020, Begini Prakiraan BI<p>

Kepala BI Sumbar, Wahyu Purnama A.

VALORAnews - Pada triwulan I 2020, ekonomi Sumatera Barat tumbuh terbatas pada level 3,92% (yoy), atau tumbuh melambat dibandingkan triwulan IV 2019 yang sebesar 5,13% (yoy) dan triwulan I 2019 yang mencapai 4,85% (yoy). Perlambatan yang terjadi, terutama merupakan dampak dari pandemi Covid19.

Berdasarkan pengeluaran, perlambatan ekonomi akibat dari melambatnya komponen konsumsi rumah tangga, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) dan net ekspor. Dari sisi lapangan usaha (LU), terbatasnya pertumbuhan ekonomi terutama bersumber dari perlambatan pertumbuhan pada tiga sektor penopang utama ekonomi Sumatera Barat yaitu sektor sektor perdagangan besar-eceran, sektor transportasi dan pergudangan serta sektor industri pengolahan.

Pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat diprakirakan masih akan tertahan di triwulan II 2020. Perlambatan ekonomi Sumatera Barat dari sisi pengeluaran, diprakirakan terutama masih akibat melambatnya konsumsi rumah tangga, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) dan ekspor.


"Pandemi Covid19 yang semakin meluas pada triwulan II 2020, diprakirakan akan menurunkan permintaan dan pendapatan masyarakat," ungkap Kepala BI Sumbar, Wahyu Purnama A dalam siaran pers yang diterima, Senin (29/6/2020).

Fluktuasi harga CPO dan karet dunia pada triwulan II 2020 diprakirakan akan menahan pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat. Dari sisi LU, tertahannya kinerja perekonomian pada triwulan II 2020 terutama disebabkan oleh prakiraan penurunan kinerja LU transportasi dan pergudangan; perdagangan dan eceran serta melambatnya pertumbuhan pada sektor pertanian.

Pembatasan mobilitas dan aktivitas sosial-ekonomi seiring dengan pandemi COVID19 yang meluas pada triwulan II 2020, diprakirakan akan menahan kinerja beberapa lapangan usaha terutama LU transportasi dan pergudangan serta LU perdagangan dan eceran.

BI mencatat, realisasi belanja dan pendapatan Provinsi Sumatera Barat hingga triwulan I 2020, juga menurun dibandingkan dengan realisasi triwulan I 2019. Penurunan realisasi pendapatan Provinsi Sumatera Barat, sejalan dengan menurunnya realisasi pendapatan 19 kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Barat hingga triwulan I 2020.

Daya serap belanja APBN untuk kementerian/lembaga di Provinsi Sumatera Barat hingga triwulan I 2020, juga menurun dibandingkan dengan triwulan I 2019.

"Realisasi belanja APBN untuk kementerian/lembaga Provinsi Sumatera Barat pada triwulan I 2020 mencapai 12,75% atau senilai Rp1,88 triliun, lebih rendah dibandingkan dengan triwulan I 2019 yang sebesar 18,46% atau senilai Rp2,82 triliun," ungkapnya.

Inflasi triwulan I 2020 tercatat terkendali di tengah kondisi curah hujan yang tinggi dan mulai mewabahnya pandemi Covid19. Pada triwulan I 2020, laju inflasi tercatat mencapai 2,09% (yoy), atau lebih tinggi dibandingkan dengan laju inflasi triwulan IV 2019 yang sebesar 1,67% (yoy).

Berdasarkan kelompoknya, laju inflasi pada triwulan I 2020 didorong oleh inflasi kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 4,96% (yoy), terutama disebabkan peningkatan harga komoditas cabai merah, bawang merah dan bawang putih akibat curah hujan yang tinggi serta wabah Covid19 yang menghambat impor bawang putih.

Di sisi lain, laju inflasi triwulan I 2020 tertahan oleh deflasi pada kelompok transportasi sebesar 2,25% (yoy) seiring dengan penurunan tarif angkutan udara karena berkurangnya permintaan akibat pembatasan kegiatan di tengah wabah corona.

Tekanan inflasi pada triwulan II 2020, diprakirakan akan melambat dibandingkan dengan triwulan I 2020. Laju inflasi triwulan II 2020 diprakirakan akan lebih rendah dari realisasi triwulan I 2020 yang sebesar 2,09% (yoy) maupun triwulan II 2019 yang sebesar 3,61% (yoy).

Hal tersebut akibat dari penurunan permintaan masyarakat dibandingkan dengan tahun sebelumnya sejalan dengan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang berimplikasi terhadap pembatasan operasional pelaku usaha dan pengurangan penghasilan pekerja.

Perlambatan laju inflasi secara umum disebabkan oleh menurunnya permintaan masyarakat pada HBKN lebaran Idul Fitri tahun 2020 dibandingkan dengan HBKN lebaran tahun-tahun sebelumnya. Kebijakan PSBB termasuk larangan mudik diprakirakan akan menahan laju inflasi pada triwulan II 2020.

Stabilitas sistem keuangan daerah di Sumatera Barat pada triwulan I 2020 masih terjaga. Aset Perbankan di Sumatera Barat pada triwulan I 2020 tumbuh sebesar 0,53% (yoy), atau melambat dibandingkan triwulan IV 2019 yang tumbuh 4,21% (yoy).

Sejalan dengan pertumbuhan Aset, Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan di Sumatera Barat juga tumbuh melambat 3,88% (yoy) dibandingkan dengan triwulan IV 2019 yang sebesar 7,30% (yoy). Sementara itu, kredit/pembiayaan Sumatera Barat pada triwulan I 2020 tercatat tumbuh 4,97% (yoy) atau meningkat dibandingkan triwulan IV 2019 yang tumbuh 4,81% (yoy).

Rasio Non-Performing Loan (NPL) Sumatera Barat tercatat pada angka 3,03% (yoy), juga meningkat dibandingkan triwulan IV 2019 yang sebesar 2,60% (yoy). Peningkatan NPL sejalan dengan meningkatnya kredit non performing yang diindikasikan sebagai dampak pandemi Covid19 dan melambatnya perekonomian Sumatera Barat pada triwulan I 2020.

Transaksi non tunai di Sumatera Barat pada triwulan I 2020, mengalami perlambatan sebagai dampak pandemi Covid19 yang mengurangi kegiatan ekonomi masyarakat. Transaksi non tunai di Sumatera Barat melalui Real Time Gross Settlement (RTGS), kliring, maupun Layanan Keuangan Digital (LKD) mengalami penurunan dibandingkan triwulan IV 2019. Sementara itu transaksi uang elektronik (UE) yang menunjukkan peningkatan seiring adanya perluasan implementasi UE untuk parkir di beberapa titik dan perluasan program Sembako di 2020.

Perekonomian Sumatera Barat pada triwulan III 2020 diprakirakan meningkat dari triwulan II 2020. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga masih akan menopang perekonomian. Peningkatan konsumsi rumah tangga sejalan dengan normalisasi permintaan pasca berkurangnya kebijakan physical distancing serta beradaptasinya perilaku ekonomi masyarakat dalam melakukan kegiatan ekonomi yang memanfaatkan teknologi informasi (digital).

Kondisi investasi diprakirakan meningkat seiring dengan berjalannya proyek Jalan Tol Padang-Sicincin serta normalisasi pemenuhan target eksekusi untuk proyek lainnya. Net ekspor diprakirakan meningkat sejalan dengan normalisasi perdagangan yang dipengaruhi oleh pembukaan kembali pelabuhan utama atau jalur distribusi lainnya diprakirakan akan mendorong kinerja ekspor.

Dari sisi lapangan usaha, LU perdagangan diprakirakan tumbuh positif dan menjadi faktor pendorong utama. Perbaikan daya beli masyarakat dan adaptasi pelaku usaha perdagangan dalam menyikapi new normal akan mendorong kinerja LU perdagangan.

Secara keseluruhan, perekonomian Sumatera Barat akan melambat sepanjang 2020 ini. Secara umum, pertumbuhan ekonomi 2020 melambat sejalan dengan penurunan permintaan akibat pandemi Covid19. Perlambatan sisi permintaan terutama pada konsumsi rumah tangga dan investasi, serta kontraksi net ekspor.

Sementara itu, inflasi tahun 2020 diprakirakan sedikit meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kenaikan tarif cukai rokok pada awal tahun 2020 berpotensi mendorong kenaikan harga rokok secara gradual sepanjang tahun.

Dari faktor alam, perubahan iklim berdampak pada terjadinya cuaca yang ekstrem dan pergesaran pola tanam akan menimbulkan sedikit tekanan inflasi khususnya pada kelompok makanan, minuman dan tembakau, namun tingkat inflasi tahun 2020 diprakirakan masih akan berada dalam rentang target inflasi nasional yakni 31% (yoy). (vry)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar