MITRA VALORA NEWS

Kamis, 2020-08-06 19:53 WIB

Empat Kelahiran di Malalak, Seorang Penderita Stunting

<p>Empat Kelahiran di Malalak, Seorang Penderita Stunting<p>

VALORAnews - Wakil Bupati Agam, Trinda Farhan Satria menilai, stunting bisa ditekan melalui gerakan bersama. Tapi, jangan pernah sekali-kali...

Pengusaha Mesti Jeli Merespon Dampak Ekonomi Covid19, Dedi: IEF Siap jadi Fasilitator

AI Mangindo Kayo | Jumat, 10-07-2020 | 14:24 WIB | 180 klik | Provinsi Sumatera Barat
<p>Pengusaha Mesti Jeli Merespon Dampak Ekonomi Covid19, Dedi: IEF Siap jadi Fasilitator<p>

Founder Indonesia Economic Forum (IEF), Dedi Vitra Johor saat memberikan motivation training pada pelaku UMKM Sumatera Barat, beberapa waktu lalu. (istimewa)

VALORAnews - Data BPS 2019 mencatat, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang tersebar di berbagai daerah di Sumatera Barat sebanyak 593.100 unit. Baru sebanyak 419 di antaranya atau 0,007 persen, masuk kategori pelaku usaha besar.

Kategori pengusaha mikro sebanyak 531.350 atau 89,59 persen. Sedangkan pelaku usaha kecil, sebanyak 53.431 atau 9,01 persen. Kemudian, pelaku usaha menengah sebanyak 7.990 atau 1,33 persen.

"Pelaku UMKM, telah terbukti tahan aneka krisis. Namun, mereka juga alami kesulitan untuk berkembang. Salah satu faktornya adalah permodalan," ungkap salah seorang founder Indonesia Economic Forum (IEF), Dedi Vitra Johor dalam pernyataan tertulis, Jumat (10/7/2020).


Itu sebabnya, terang Dedi, angka pelaku usaha besar di Sumatera Barat bahkan Indonesia tak kunjung signifikan. Pengalamannya sebagai trainer dan motivator bisnis di berbagai kota di Indonesia, Dedi melihat, pelaku usaha belum memiliki kemampuan untuk membaca kepentingan calon pemodal (investor).

UMKM Kuat Bertahan

Produk UMKM Indonesia, urai Dedi, pada dasarnya tidak kalah bersaing dengan produk luar negeri. Untuk harga, produk UMKM Indonesia juga sangat kompetitif. Pada kondisi tertentu, produk UMKM Indonesia memiliki pasar yang unik.

Namun, terang Dedi, masa pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid19), telah membuat perekonomian global berada dalam kondisi resesi, tak terkecuali di Indonesia bahkan Sumatera Barat. Secara langsung, kondisi itu telah membawa dampak negatif pada geliat usaha pelaku UMKM.

"Walau dalam kondisi penuh tekanan, mayoritas UMKM Indonesia masih bisa bertahan," ungkap Dedi yang juga trainer tetap di Kementrian Koperasi & UKM.

Dalam skenario terburuk, ungkap Dedi, pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa pandemi Covid19 ini, diprediksi banyak pihak akan berada pada kondisi minus.

Walau kondisi pertumbuhan ekonomi dalam bayangan resesi, Dedi mengutip kata bijak Lou Holtz, "Kehidupan adalah 10 persen apa yang terjadi pada Anda dan 90 persen adalah bagaimana Anda meresponnya."

"Indonesia Economic Forum (IEF) saat ini tengah menjalin kerjasama dengan pengusaha-pengusaha dari India. Ini kesempatan emas bagi pengusaha UMKM kita, untuk dapat investor dari luar negeri," ungkap Dedi yang merupakan alumnus Lemhanas RI tahun 2014 itu.

Ditegaskan Dedi, keberhasilan terbesar bukanlah karena pernah gagal, tetapi bangkit setiap kali mengalami kegagalan.

Untuk itu, Dedi yang telah berbicara tentang potensi bisnis pada lebih dari 70.000 orang di berbagai kota di Indonesia, mengajak pelaku UMKM untuk saling membesarkan. Melalui IEF, Dedi menawarkan kesempatan itu. Untuk informasi detailnya, silahkan kontak WA 081275958000.

"Motivator Wayne Dyer berkata, apa yang kita pikirkan, menentukan apa yang akan terjadi pada kita. Jadi, jika ingin mengubah hidup, kita perlu sedikit mengubah pikiran," ungkap Dedi. (kyo)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar