MITRA VALORA NEWS

Kamis, 2021-02-25 22:23 WIB

Kapolda Sumbar Tinjau Kawasan Hutan yang Diserahkan ke Negara di Pasbar

<p>Kapolda Sumbar Tinjau Kawasan Hutan yang Diserahkan ke Negara di Pasbar<p>

VALORAnews - Kapolda Sumbar Irjen Pol Toni Harmanto beserta beberapa Pejabat Utama Polda Sumbar (PJU), berkunjung ke Polres Pasaman Barat, Kamis...

Kisah Insipiratif 21 Penulis dari Beragam Profesi

Coach Dedi Vitra Johor Bagikan Kisah Bangkit dari Keterpurukan Melalui Buku

AI Mangindo Kayo | Kamis, 07-01-2021 | 20:48 WIB | 161 klik | Provinsi Sumatera Barat
<p>Coach Dedi Vitra Johor Bagikan Kisah Bangkit dari Keterpurukan Melalui Buku<p>

Dedi Vitra Johor, salah satu dari 21 penulis buku Knock Out, 21 Kisah Inspiratif meng-KO Balik Kehidupan yang Keras. (mangindo kayo/valoranews)

VALORAnews - Setiap orang bisa dipastikan memiliki pengalaman traumatik. Keterbatasan kemampuan dalam melihat sisi positif dari pengalaman traumatik itu, membuat pengalaman buruk tersebut terus menghantui perjalanan hidup mereka.

Namun, menuangkan pengalaman traumatik kedalam sebuah tulisan, agar bisa jadi inspirasi banyak orang, jadi tantangan yang cukup berat untuk ditaklukan. Namun, tekad berbagi pengalaman hidup agar jadi motivasi untuk bangkit kembali, membuat aneka tantangan dan rintangan ini berhasil dilewati dengan gemilang.

"Alhamdulillah, buku ini tuntas dikerjakan sesuai tenggat waktu, 3 bulan. Bertepatan dengan Hari Pahlawan, 10 November 2020 lalu, buku berjudul; 'Knock Out, 21 Kisah Inspiratif meng-KO Balik Kehidupan yang Keras,' resmi diluncurkan secara virtual," ungkap salah seorang penulis buku setebal xiv + 293 halaman, Dedi Vitra Johor pada sejumlah wartawan di Padang, Kamis (7/1/2021).


Dedi kemudian mengisahkan pengalaman traumatiknya saat menempuh pendidikan di tingkat SMP di tepian Danau Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Persiapan matang yang dilakukannya untuk mengikuti lomba pembacaan UUD 1945, berakhir dengan pengalaman traumatik yang membekas sangat dalam.

Hanya gara-gara menepis ajakan ibunda untuk sarapan lebih dulu sebelum berangkat ke lokasi lomba, Dedi yang karib disapa Jojo di masa kanak-kanaknya itu, akhirnya harus membayar mahal. Tubuhnya tiba-tiba menggigil, begitu pembukaan UUD 1945 hampir tuntas dibaca. Suara lantangnya tiba-tiba tercekat, seiring tubuhnya yang tampak menggigil hingga membuat panggung yang terbuat dari kayu itu ikut berderik.

Padahal, dengan suara cadelnya, karena tak bisa melafazkan huruf 'r' dengan sempurna, Dedi di awal gilirannya membaca pembukaan UUD 1945, sempat membuat decak kagum lebih dari 600 orang penonton yang hadir di perlombaan itu.

"Jerih payah saya dalam mempersiapkan diri untuk mengikuti lomba, berakhir dengan julukan Gempa Man. Bully-an ini sangat membekas di hati saya yang paling dalam dalam rentang waktu cukup lama," ungkap Dedi yang didampingi direktur marketing perusahaan miliknya, PT ASB Indonesia, Greatia Martha.

Walaupun terpuruk karena mengabaikan permintaan sang ibunda, Dedi kembali bangkit juga berkat dorongan wanita yang telah melahirkannya itu. "Masa lalu itu tak akan bisa diubah lagi. Dia telah jadi bagian sejarah dalam perjalanan hidup. Fokus lah terhadap masa depan. Jadikan kejadian di masa lalu sebagai pengalaman menapak tantangan dan peluang yang ada di depan," ungkap Dedi mengulang pesan sang ibunda pada dirinya.

"Sejak saat itu, saya tak lagi fokus melihat 'kaca spion.' Tak ada gunanya meratapi kejadian masa lalu. Saya kemudian fokus berteman dengan pribadi-pribadi yang bisa saling menghargai kelebihan dan kekurangan kita, demi mengembalikan kepercayaan diri yang terpuruk sangat dalam," tambah Dedi.

Ternyata, ungkap Dedi, keputusannya untuk berada bersama orang-orang dengan vibrasi (getaran gelombang) yang sama, jadi pilihan yang mengubah jalan hidupnya. Kepercayaan dirinya pulih. Dedi tak lagi jadi pria yang lebih banyak menundukan wajah, jika bertemu orang banyak.

"Bagaimana cara mengubah cara pandang (mind set), selalu saya tularkan pada peserta yang mengikuti kelas seminar atau motivasi bisnis yang saya selenggarakan," ungkap Dedi.

"Lebih dari 60 iven business coaching saya yang telah terjadwal sepanjang 2020 lalu, akhirnya batal diselenggarakan karena adanya pembatasan pertemuan yang melibatkan banyak orang dibatasi pemerintah mengantisipasi Pandemi Covid19. Walau gagal dalam pertemuan tatap muka, ternyata pertemuan secara daring jadi trend. Satu per satu, iven yang telah terjadwal tersebut kembali terlaksana," ungkapnya.

Pengalaman seperti Dedi ini, juga ditulis dengan dimensi yang berbeda oleh penulis lainnya. Di antara judul yang cukup memantik hasrat untuk dibaca di antarnya, 'Ubah Kebiasaan sebelum jadi Penyesalan' di halaman 43, 'Tiada Badai yang tak Pernah Usai' (halaman 3), 'Resep Bisnis Bertahan Meski Diterpa Hujan' (halaman 17), 'Pelajaran Berarti dan Melawan Gengsi' (halaman 133).

Kemudian, judul lainnya yakni 'Memaksimalkan Ikhtiar, Memanjangkan Tawakal' (halaman 211), 'Manuasi yang Lupas Bersyukur' (halaman 251) serta 'Seringkali Hidayah Tuhan itu Datang Lewat Jalan yang tak Pernah Kita Duga' (halaman 281) yang ditulis Bossman Mardigu, sosok yang jadi sentrifugal pertemuan para penulis buku ini.

Pengalamaan Pribadi

Buku yang ditulis berdasarkan pengalaman pribadi 21 orang penulisnya ini, terdiri dari 3 Bab. Tulisan Dedi Vitra Johor bersama enam orang rekannya yang lain, berada di Bab 1, yang tulisannya dikelompokan dengan judul Cara Pandang (Mindset).

Bab 2 yang juga ditulis berdasarkan pengalaman 7 orang penulis ini, terkonsentrasi pada pembicaraan tentang Tindakan (Action). Sedangkan Bab 3 yang lebih mengulas tentang Kekuatan Doa (pray), juga ditulis 7 orang.

Ke-21 orang penulis tersebut, berasal dari beragam latar belakang. Mulai dari ibu rumah tangga, motivator bisnis, ustad hingga kaum profesional lainnya. Mereka yakni Mardigu WP, Ira Pohan, Ihsan, Dedi Johor, Ust Ali, dr Farhan, Haersyah, Sarju, Satrio, Irfan, Destaza, Zaki, Riyadin, Habibah, Handiyoko, Iwan, Ilham, Nensi, Prapto, Zhakiyah, dan Darwan.

Dikatakan Dedi, buku ini digagas untuk bisa dituntaskan dalam tempo 5 hari. Momentum peluncurannya juga telah ditetapkan sejak pertama kali digagas, yaitu Hari Pahlawan, 20 November 2020. Dari sekitar 60 orang yang bersepakat untuk berkontribusi untuk mengirimkan pengalaman pribadi, akhirnya bersisa 21 orang.

Angka penulis sebanyak 21 ini kemudian dipertahankan. Dalam perjalanannya, 21 orang penulis ini juga mengalami bongkar pasang. Gonta-ganti penulis dilakukan secara tegas. Begitu tak bersedia mematuhi komitmen yang telah digagas sejak semula, langsung dicdarikan gantinya.

"Ternyata, kami yang jadi penulis buku ini, memang harus mengalami proses meng-KO balik. Kami langsung mendapatkan ujian sesuai dengan judul buku yang telah digagas. Jika kami tak tegas meng-KO balik hambatan, tentu saja buku ini tak akan pernah terwujud. Di sinilah pentingnya mematrikan mind set itu," ungkap Dedi.

Bagi Anda yang berminat memiliki buku ini, dapat mengorder melalui link (klik) di sini. (kyo)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar