MITRA VALORA NEWS

Kamis, 2020-08-06 19:53 WIB

Empat Kelahiran di Malalak, Seorang Penderita Stunting

<p>Empat Kelahiran di Malalak, Seorang Penderita Stunting<p>

VALORAnews - Wakil Bupati Agam, Trinda Farhan Satria menilai, stunting bisa ditekan melalui gerakan bersama. Tapi, jangan pernah sekali-kali...

Home » Gagasan

Riwayat dan Logika dalam Memahami Agama

Jumat, 2020-03-20 | 21:31 WIB | 915 klik
<p>Riwayat dan Logika dalam Memahami Agama<p>

Mochamat Nasrudin

Monas Inspire

Masih banyak masyarakat yang salah menerapkan konsep tawakal pada Allah terkait penyebaran wabah virus Corona. Mereka terus berhujjah, bahwa mereka bertawakal pada Allah saja namun dengan cara melawan bahaya tanpa berikhtiar mengatasinya sebagaimana riwayat yang dicontohkan Rasulullah SAW.

Mereka terus mengembangkan pendapat/paham, pasrah total tanpa mau berikhtiar mengatasi wabah virus dengan mengatakan bahwa virus ini milik Allah. Saya pasrah pada Allah. Saya gak takut pada virus Corona, saya hanya takut pada Allah. Hidup dan mati sudah ditentukan Allah.

Sekilas, pendirian seperti ini memang benar. Saya akui, akidah ini sudah benar. Tapi, cara menerapkannya kurang tepat.


Tahu dimana salahnya?

Salahnya adalah mereka pasrah total tanpa memperdulikan langka langka Syara' yang telah dicontohkan Rasulullah SAW dalam mengatasi masalah seperti ini. Yakni, kita wajib berusaha terlebih dulu sebelum pasrah total kepada Allah.

Pasrah total dengan melawan sunnah nabi Muhammad SAW, itu jelas sebuah kesalahan. Kita wajib pasrah kepada Allah dengan mengikuti sunnah nabi.

Apa itu sunnah nabi, jangan masuk suatu daerah yang ada penyakit mewabah. Jika anda ada di dalamnya, jangan keluar.

Ini adalah konsep isolasi atau social distancing yang dicontohkan Rasulullah SAW yang sedang dilakukan pemerintah di seluruh dunia. Ini juga sudah difatwakan ulama ulama Indonesia, Mesir, Arab Saudi, Yaman dan lainnya.

Kalau setelah berusaha dengan prosedur yang benar, lalu kita masih sakit, barulah kita pasrah total dengan ketentuan Allah. Inilah takdir Allah yang wajib kita ridho menerimanya.

Jangan mengatakan pasrah tanpa mau berusaha. Ini jelas salah.

Ini adalah pelajaran akidah dasar yang kita mungkin lupa. Kalau ini yang dipahami, berarti kita tidak perlu kerja, tidak perlu ikhtiar, toh Allah sudah tetapkan rezeki untuk kita. Kita tidak perlu makan, toh hidup mati sudah Allah tetapkan.

Jadi, fatwa MUI sudah benar. Langkah pemerintah sudah benar. Tinggal kita memahaminya dengan ilmu yang benar, bukan ego dan emosi tanpa ilmu.

Makanya segala amal wajib dilandasi ilmu. Amal tanpa ilmu, mardud. Pasti ditolak Allah.

Kita menyangka, apa yang kita lakukan sudah benar. Rupanya kita sedang melakukan upaya bunuh diri dan menjadi fasilitas tersebarnya virus yang bisa mengakibatkan banyak orang akhirnya sakit dan terpapar virus, akibat pendirian kita yang salah, tapi kita anggap benar.

Masihkah kita ngeyel dengan paham yang salah, padahal telah datang ilmu yang jelas kepada kita dari Allah dan rosul-Nya?

Saya tahu anda berani mati, anda tidak takut Corona. Tapi takutlah pada Allah dan rosul-Nya dengan cara mengikuti Sunnah Rasulullah.

Pikirkan. Dengan mengembangkan paham yang salah ini, artinya kita memperlama virus ini bertahan lama di lingkungan kita yang dapat berakibat fatal terhadap nasib orang orang yang kita cintai dan masyarakat di sekitar kita.

Kalau kita sendiri yang mati, mungkin tidak ada masalah. Tapi, kalau kita menyebabkan banyak orang mati akibat pendirian kita, itu masalah besar.

Jadi, luruskan pemahaman yang salah, bahwa menghindari kerumunan apa saja termasuk di masjid adalah sesat ketika dalam kondisi darurat.

Tidak ada niat ulama sekarang untuk menjauhkan umat dari masjid. Tapi ini taqdir Allah. Cara menghindari kerumunan ini, termasuk menghindari kerumunan di masjid, sudah dilakukan ulama zaman dulu yang sdh dicontohkan Rasulullah SAW ketika ada wabah penyakit terjadi.

In syaa allah, ini cepat berlalu kalau kita ikuti tuntunan Allah dan rosul-Nya. Teruslah belajar dan menggali ilmu, agar kita tidak tersesat paham dan ditipu syetan.

Rosululloh selalu mencontohkan bagaimana beribadah saat normal dan saat dalam keadaan darurat.

Cara berwudhu saat normal dan darurat itu berbeda. Cara sholat saat kondisi normal dan saat kondisi darurat, juga berbeda. Semua ada ilmunya. Gunakan ilmu, bukan logika dan nafsu kita. Karena agama itu riwayat.

Biasakan selektif menerima dan men-share informasi yang tidak jelas kebenarannya. Cek and recheck kebenarannya.

Apalagi terkait hadist nabi. Hindari hadist hadist dhoif selama ada hadist sohih. Biasakan melakukan tarjih terhadap hadist yang kita terima. Jangan langsung dishare. Itu berarti kita ikut menebar kedustaan.

Saya sering melihat, rekan-rekan sangat mengandalkan hadist dhoif sebagai hujjah dan begitu diyakini untuk menguatkan sikapnya. Contohnya hadist tentang ketika Allah turunkan penyakit dari langit pada penduduk bumi, maka Allah akan jauhkan dari orang orang yang meramaikan masjid.

Ini adalah hadist dhoif yang di-share kemana-mana. Hadist dianggap dhoif karena beberapa perawinya lemah, tidak tsiqoh dan mengandung syadz atau kejanggalan.

Sebaiknya, kalau berhujjah gunakan hadist yang kualitasnya sohih. Jadi, kalau ada dua hadist bertentangan,. atara sohih dan dhoif, kita wajib merojih atau memilih yang sohih dan membuang yang dhoif. Ini namanya mentarjih.

Dengan begitu, kita tidak mempengaruhi orang yang membaca tulisan kita atau meyakini pendapat kita ke arah kesesatan, meskipun maksud kita baik.

Semoga bisa dipahami dan bermanfaat.

Wallahu a'lamu bishowab. (*)

Komentar

Gagasan lainnya

<p>Data Pemilih dan Pemenuhan Hak Politik<p> Senin, 27-07-2020 20:20 WIB

Data Pemilih dan Pemenuhan Hak Politik

oleh: Sutrisno
Kasubag Teknis dan Hupmas KPU Padang
<p>Hari-hari Terbaik<p> Senin, 20-07-2020 20:12 WIB

Hari-hari Terbaik

oleh: Irsyad Syafar
Anggota DPRD Sumbar
<p>Harapan Baru Masyarakat Tani Pascapandemi<p> Senin, 13-07-2020 10:15 WIB

Harapan Baru Masyarakat Tani Pascapandemi

oleh: Akhmad Khambali SE MM
Ketua Umum Gerakan Mitra Santri Nusantara
<p>Beternak Ayam, Solusi Kemandirian Pangan di Masa Covid19<p> Senin, 01-06-2020 23:11 WIB

Beternak Ayam, Solusi Kemandirian Pangan di Masa Covid19

oleh: Yosnofrizal
Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Agam