MITRA VALORA NEWS

Minggu, 2020-07-05 21:25 WIB

Perantau Tapi Selo Gelar Halal Bihalal Secara Virtual

<p>Perantau Tapi Selo Gelar Halal Bihalal Secara Virtual<p>

VALORAnews - Masyarakat Nagari Tapi Selo, Kecamatan Lintau Buo Utara, Tanahdatar, menggelar silaturahmi dan halal bihalal secara virtual, Ahad...

Home » Gagasan

Ujian Keimanan dalam Menegakan Kebaikan

Jumat, 2020-03-27 | 12:34 WIB | 141 klik
<p>Ujian Keimanan dalam Menegakan Kebaikan<p>

Mochammad Nasrudin

Monas Inspire Institute

Mari bersama kita merenungi QS An-Nisa; 59; ya ayyuhalladzina aamanu athiulloha wa athiurrosul wa Ulil Amri minkum.

Melalui surat ini, Allah tidak sedang bicara pada manusia secara umum. Tidak juga bicara pada orang muslim secara umum. Namun, bicara kepada kalian kaum beriman. Yang beriman pada Allah dan rosul-Nya dengan sungguh sungguh.

Orang orang beriman, selain diwajibkan taat kepada Allah dan rosul-Nya, juga wajib hukumnya taat pada Ulil Amri. Menurut tafsiran para ulama, ulil amri ini adalah pemimpin yang memegang otoritas kekuasaan dan pemimpin yang memegang otoritas syari'ah.


Melalui kejadian wabah Corona ini, Allah benar-benar menguji kita, menguji keimanan kita. Apakah kita mau mendengarkan perintah Allah, perintah Rosululloh dan perintah Ulil Amri yang menegakkan kebaikan.

Saat ini, pemerintah atau Ulil Amri, telah mengeluarkan produk kebijakan, agar umat Islam selama wabah ini mengancam keselamatan kita, maka jauhi segala bentuk kerumunan massa, demi memutus mata rantai penularan virus Corona yang bisa menulari siapa saja.

Larangan menghindari segala bentuk kerumunan ini, termasuk melarang untuk dilakukan sholat Jumat dan jamaah shalat fardhu di setiap masjid, untuk sementara waktu. Karena bisa membahayakan keselamatan masyarakat, jika penularan ini terjadi secara massif.

Namun, atas kebijakan ini, sebagian masyarakat yang menganggap, hal ini adalah sebuah kebijakan sesat karena melarang umat meninggalkan sholat Jumat yang hukumnya wajib. Anggapan masyarakat ini hanya sekadar dhon atau prasangka yang tidak didasari ilmu.

Mereka hanya semangat beribadah tanpa didasari kajian ilmu yang memadai. Sehingga langsung menuduh, menyesatkan dan lain-lain hanya berdasarkan hawa nafsu mereka.

Sesuatu yang mereka anggap baik, belum tentu baik di mata Allah dan sesuatu yang mereka anggap buruk, belum tentu buruk menurut Allah.

Di sinilah mereka diuji, apakah mereka termasuk orang beriman atau tidak. Salah satu tanda keimanan seseorang adalah bukti ketaatan kepada Allah dan rosul-Nya serta Ulil Amri atau pemimpin.

Sekarang kita uji, apakah pelarangan shalat Jumat sementara di saat ada wabah yang membayakan manusia ini, agar diganti dengan sholat dhuhur, termasuk perintah Allah dan rosul-Nya atau tidak?

Kalau ini termasuk perintah agama, maka mengingkari perintah Ulil Amri untuk mengganti sholat Jumat dengan dzuhur sementara waktu demi kemaslahatan umat, adalah bentuk ketidak-imanan kita terhadap Allah dan rosul-Nya.

Apa kandungan perintah Allah dalam Fatwa ulama dan kebijakan Ulil amri tersebut?

Allah melarang kita melawan bahaya. Allah melarang kita menjaga diri dari kerusakan dan malapetaka. Wa la tulkuu biadikum ila tahlukah. Janganlah kalian menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan.

Corona adalah penyakit wabah yang Allah jadikan sebagai tentaranya untuk menguji manusia. Sama halnya air, pasir, api dan lain-lain, virus juga tentara Allah yang mengikuti perintah Allah untuk menguji kita. Virus menjadi bahaya atas ijin Allah.

Seandainya ada badai pasir menerjang kampung kita, apakah kita menghindari bahaya terjangan pasir tersebut atau kita melawannya?

Kaau kita melawannya, tidak mau sembunyi untuk sementara dengan alasan tawakal dan lebih takut Allah daripada pasir, berarti kita dzolim dan bunuh diri. Hukum bunuh diri haram karena kita merusak diri kita.

Kalau kita menghindari bahaya, maka kita beriman karena melaksanakan perintah Allah. Karena sifat bahayanya pasir, karena atas perintah Allah yang wajib kita hindari, maka Allah perintahkan kita untuk menghindarinya.

Nah, sekarang Allah menguji kita melalui wabah virus Corona yang menular dan penyebarannya cepat saat mulai menjangkiti kita. Sifatnya tidak nampak dan berbahaya. Virus ini juga tentara Allah yang berbahaya atas kehendak Allah.

Menyikapi keberadaan virus ini, apakah kita akan melawannya dengan tawakal tanpa berikhtiar untuk menghindarinya dengan alasan lebih takut pada Allah dibanding pada virus?

Jika ini sikap kita, kita sedang melakukan upaya bunuh diri, karena mengingkari perintah Allah untuk menghindari bahaya yang Alloh takdirkan. Namun, kalau kita menghindari bahaya virus Corona ini, maka kita sejatinya sedang menjalankan perintah Allah yang memberi takdir terhadap sifat virus yang bahaya dan wajib dihindari.

Kita menghindari virus Corona, bukan bentuk ketakutan kita lebih tinggi kepada Corona dibanding takut kepada Allah. Justru kita sedang menunjukkan ketaatan kita kepada Allah SWT, karena Allah minta kita menghindari bahayanya karena ketentuan Allah.

Yang kedua, kita uji, apakah sikap kita melawan perintah Ulil Amri yang berniat menjaga keselamatan umat ini, termasuk mengingkari perintah Rosululloh?

Rosululloh dalam hadits sohih sangat populer, ketika terjadi wabah kita diperintahkan untuk menghindarinya. Jika ada di suatu negeri mengalami wabah, kita dilarang memasukinya dan jika ada wabah di daerah kita, kita dilarang keluar. Alias diam saja di tempat.

Rosululloh juga melarang kita berkumpul dengan orang yang terpapar virus atau penyakit menular.

Nah, saat ini pemerintah memiliki kebijakan untuk tidak melakukan kegiatan ke luar atau kegiatan yang memungkinkan terjadinya penularan virus akibat berkumpulnya massa. Hal ini sudah sejalan dengan perintah Rosululloh SAW.

Apakah kita mau menaatinya atau tidak? Kalau kita menaatinya, maka kita dianggap orang beriman, karena perintah taat kepada Ulil Amri yang menegakkan hukum Allah dan rosul-Nya adalah untuk orang beriman.

Sedangkan jika kita mengingkari perintah Ulil Amri, yang menegakkan hukum Allah dan rosul-Nya, maka kita tergolong orang yang tidak beriman atau masih di level muslim, meskipun kita mengaku ingin menjalankan perintah Allah dengan shalat Jumat.

Padahal, sholat Jum'at itu sedang dilarang Ulil Amri demi kebaikan umat, agar tidak terjadi penularan wabah dan menghentikan mata rantai penularan virus akibat menghindari kerumunan yang dilarang agama saat terjadi wabah.

Ingat! Ulama tidak melarang sholatnya, tapi melarang sholat yang berdampak kerumunan massa seperti sholat Jumat dan itu bisa diganti dengan sholat dzuhur berjamaah di rumah masing-masing.

Tidak ada keimanan dengan cara melanggar perintah Allah dan rosul-Nya. Tidak ada ketawakalan tanpa didahului ikhtiar untuk menghindari bahaya.

Rosululloh adalah wakil Allah di bumi yang menjelaskan hukum-hukum Allah. Kemudian, dilanjutkan para ulama sebagai pewaris nabi. Ilmu itu wajib bersanad, agar kita tidak belajar dengan syetan.

Ulama lah yang paling memahami maksud dari ajaran Allah dan rosul-Nya, karena mereka belajar dari ulama-ulama sebelumnya hingga sanad tersebut musalsal ke Rosululloh SAW. Sehingga ilmu ulama, benar benar bisa dipertanggungjawabkan.

Mereka ketika mengeluarkan fatwa tidak hanya berdasarkan dari rujukan sembarangan, namun rujukan yang sudah rojih dan juga melibatkan banyak disiplin ilmu.

Bukan rujukan abal-abal, baru belajar langsung berani menyalahkan fatwa ulama. Dengan dasar postingan orang, YouTube atau hadist-hadist yang bertebaran di medsos yang tidak diteliti derajat kualitas hadistnya. Tidak peduli hadistnya sohih atau dhoif, sanadnya musalsal atau mungkoti', matannya marfu' atau maqthu'.

Semuanya diembat dan langsung diyakini tanpa keilmuan. Naifnya langsung dipakai untuk menyesatkan Fatwa ulama yang keilmuannya jelas jelas dalam dan bersanad hingga Rosululloh SAW.

Inilah tanda akhir zaman! Orang bodoh mengajari orang pintar.

Lalu, Ulil Amri atau pemerintah selama perintahnya untuk kebaikan umat, mengikuti hukum Syara', mengikuti arahan ulama, maka kebijakan pemerintah, wajib hukumnya diikuti. Sebagaimana QS An-Nisa 59 di atas. Taatlah kepada Allah dan rosulNya serta Ulil Amri untuk membuktikan,apakah kita beriman atau tidak.

Inilah ujian bagi kita, melalui Fatwa ulama yang meminta meninggalkan shalat Jum'at, sementara demi mencegah kerusakan dan demi memelihara kehidupan. Apakah kita akan akan ikut perintah Ulil Amri atau pemerintah juga ulama atau kita akan buat anggapan dan prasangka sendiri seakan-akan beriman padahal hakikatnya melawan perintah Allah dan rosul-Nya serta Ulil Amri.

Kalau sikap ingkar kita karena ketidakpahaman kita dan ilmu yang terbatas, lalu setelah dipahamkan mau mengerti dan mengubah sikapnya menjadi taat kepada Allah dan rosul-Nya, maka dia masih tergolong orang beriman.

Namun, jika dia masih tetap keras kepala mempertahankan pendapat dan egonya tanpa ilmu, maka dia terang-terangan melawan Allah dan rosul-Nya atas dasar keangkuhan dan keingkarannya.

Naudzu billahi min dzalik. Kita pasrahkan semuanya ke Allah.

Wallahu a'lamu bishowab. (*)

Komentar

Gagasan lainnya

<p>Beternak Ayam, Solusi Kemandirian Pangan di Masa Covid19<p> Senin, 01-06-2020 23:11 WIB

Beternak Ayam, Solusi Kemandirian Pangan di Masa Covid19

oleh: Yosnofrizal
Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Agam
<p>Less Plastic di Masa New Normal<p> Sabtu, 30-05-2020 21:56 WIB

Less Plastic di Masa New Normal

oleh: Robby Jannatan
Dosen Biologi FMIPA Universitas Andalas
<p>Lawan Covid19 dengan Bismillah<p> Minggu, 10-05-2020 21:09 WIB

Lawan Covid19 dengan Bismillah

oleh: dr Mela Aryati
Kepala Puskesmas Andalas
<p>Beragama Bukan Soal Berani atau Tidak<p> Senin, 13-04-2020 20:33 WIB

Beragama Bukan Soal Berani atau Tidak

oleh: Mochamad Nasrudin
Monas Inspire Institute