MITRA VALORA NEWS

Selasa, 2020-06-30 16:21 WIB

Mahyeldi Bagikan 200 Keranjang Hasil Produksi Bank Sampah

<p>Mahyeldi Bagikan 200 Keranjang Hasil Produksi Bank Sampah<p>

VALORAnews - Wali Kota Padang, Mahyeldi membagikan 200 keranjang belanja atau tas guna ulang, ke pengunjung Pasar Alai, Selasa (30/6/2020). Saat...

Home » Gagasan

Rahasia Medis di Era Disruption

Senin, 2020-04-13 | 07:40 WIB | 538 klik
<p>Rahasia Medis di Era Disruption<p>

Dr dr Rika Susanti SpFM (K)

Dekan FK Unand

Berbagi informasi melalui platform media sosial memang menjanjikan kepraktisan. Komunikasi antar dokter atau tenaga kesehatan terkait kondisi pasien pada era disruption 4.0 menjadi sesuatu yang tidak dapat dihindari didalam pelayanan kesehatan. Terkait wabah COVID19 yang melanda Indonesia, pembukaan (disclosure) rahasia medis ini menjadi polemik jika tenaga kesehatan tidak mengelolanya secara berhati-hati.

Penulis sendiri pernah mendapatkan pesan di media sosial yang berisi informasi lengkap pasien COVID19 yang dirawat disebuah rumah sakit milik pemerintah di propinsi Sumatera Barat, bahkan ditambah dengan penyakit berstigma negatif yang diderita oleh mantan pasien tersebut.

Nah, hal ini tentunya menimbulkan kehebohan dimasyarakat karena terbukanya rahasia medis, yang seharusnya menjadi kewajiban tenaga kesehatan untuk menyimpannya. Terbukanya rahasia medis pasien ke khalayak umum ditengah-tengah pandemi COVID19 ini menggiring stigmatisasi negatif bagi penderita dan keluarga yang tentunya akan membawa dampak psikososial yang berat, seperti terjadinya diskriminasi.


Oleh karena itu diperlukan pemahaman yang baik terhadap landasan etika dan hukum rahasia medis termasuk dalam hal membuka rahasia medis tersebut bagi kalangan kedokteran dan kesehatan.

Didalam melakukan praktik kedokteran, dokter terikat dengan prinsip dasar moral atau kaidah dasar bioetika. Di antara kaidah dasar bioetika tersebut adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh Beauchamp dan Childress yaitu menghargai otonomi pasien (respect for autonomy), berbuat baik (beneficence), tidak berbuat yang membahayakan (nonmaleficence) dan adil (justice).

Selain itu terdapat prinsip kejujuran, kesetiaan, kerahasiaan dan privasi dan lain sebagainya. Kewajiban menyimpan rahasia ini merupakan fondasi kepercayaan didalam hubungan terapeutik dokter-pasien.

Kerahasiaan pasien harus dijaga oleh dokter, karena jika dilanggar merupakan pengkhianatan terhadap kepercayaan dan privasi pasien. Didalam deklarasi universal tentang bioetika dan hak manusiawi dari UNESCO artikel 9 juga menyebutkan bahwa "privasi seseorang dan kerahasiaan informasi pribadinya harus dihormati, penggunaan informasi dari seseorang harus sesuai dengan yang disetujuinya dan sesuai dengan hukum internasional tentang hak manusiawi"

Di Indonesia, prinsip kerahasiaan medis/rahasia kedokteran diatur oleh aspek etika melalui kode etik kedokteran Indonesia (KODEKI) dan Sumpah Dokter "Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena keprofesian saya" serta peraturan perundang-undangan. Menurut Peraturan Mentri Kesehatan (PMK) nomor 36 tahun 2012 tentang rahasia kedokteran, yang dimaksud dengan rahasia kedokteran adalah data dan informasi tentang kesehatan seseorang yang diperoleh tenaga kesehatan pada waktu menjalankan pekerjaan/profesi.

Lalu, apa sajakah yang menjadi ruang lingkup rahasia kedokteran dan tenaga kesehatan yang dimaksudkan oleh peraturan mentri kesehatan tersebut? Yang termasuk ruang lingkup rahasia kedokteran adalah identitas pasien, hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, penegakan diagnosis, pengobatan dan/atau tindakan kedokteran serta hal lain yang berkenaan dengan pasien.

Sedangkan tenaga kesehatan yang dimaksud wajib untuk menyimpan rahasia medis tersebut adalah dokter, dokter gigi dan tenaga kesehatan lain, pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan, tenaga yang berkaitan dengan pembiayaan pelayanan kesehatan, tenaga lain yang mempunyai akses terhadap data dan informasi kesehatan pasien di fasilitas pelayanan kesehatan, badan hukum/korporasi dan/atau fasilitas pelayanan kesehatan, mahasiswa/siswa yang bertugas dalam pemeriksaan, pengobatan, perawatan, dan/atau manajemen informasi di fasiltas pelayanan kesehatan.

Wabah COVID19 menyebabkan kekhawatiran semua pihak, sehingga antisipasi terhadap bocornya rahasia medis yang ditulis dan dibagikan melalui media sosial menjadi luput dari perhatian, terutama diawal-awal terjadinya pandemi COVID19. Maksudnya mungkin saja baik, yaitu untuk memangkas waktu koordinasi dengan pihak terkait, namun perlu dipahami bahwa media sosial memang punya kekuatannya sendiri.

Kembali ke masalah rahasia medis menurut aspek etika dan medikolegalnya, apakah terdapat kondisi yang memperbolehkan rahasia medis dibuka?

Jika kita lihat dari sisi legal, maka rahasia medis dapat dibuka pada beberapa keadaan. Menurut PMK No 36 tahun 2012 tentang rahasia kedokteran terdapat beberapa kondisi yang memperbolehkan dokter atau tenaga kesehatan untuk membuka rahasia kedokteran yaitu untuk kepentingan kesehatan pasien, dalam rangka penegakan hukum, atas permintaan pasien sendiri dan untuk kepentingan umum yang salah satunya adalah pada saat adanya ancaman wabah.

Bagaimanakah menurut aspek etika? Secara etika, pelayanan kedokteran ditujukan untuk kesejahteraan bersama atau bonum commune. Jika informasi yang didapatkan pada praktik kedokteran dapat mengganggu keadaan bonum commune tadi, maka rahasia medis boleh dibuka.

Pembukaan rahasia medis ini dapat dilakukan oleh Dokter Penanggungjawab Pelayanan (DPJP), Pimpinan Fasyankes bila DPJP tidak ada, ketua tim bila perawatan dilakukan oleh tim dan anggota tim bila ketua tim tidak ada kepada pihak yang berwenang menangani masalah kesehatan, dalam hal wabah COVID19 tentunya pihak tersebut adalah Dinas Kesehatan dan pihak terkait lainnya.

Maka jelas menurut etika dan hukum, rahasia medis pasien COVID19 dapat dibuka, namun untuk tidak dikonsumsi umum. Terkait kerahasiaan pasien COVID19 ini juga telah diatur oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) melalui SK Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) nomor 015/PB/K.MKEK/03/2020 tentang fatwa etik kedokteran, kebijakan kesehatan dan penelitian dalam konteks pandemi COVID19 bahwa Identitas pasien atau orang dengan maupun tanpa gejala klinis dengan diagnosis positif COVID19 (kasus confirm) pada prinsipnya tetap harus dilindungi.

Dalam keadaan tertentu dapat dibuka sebatas inisial nama, jenis kelamin, status kesehatan singkat (meninggal/klinis kritis berat/sembuh), usia dan kronologi terbatas hanya yang relevan dengan penularan, misalnya penjabaran lokasi potensi penularan dengan maksud menjadi kewaspadaan publik dan penelusuran kontak (penyelidikan epidemiologis).

Adapun informasi klinis terperinci, penyakit penyerta dan tatalaksana sebaiknya tidak dibuka. Pengecualiaan hanya dapat dilakukan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, termasuk antara lain membuka nama pejabat publik dan nama tenaga medis dan nama tenaga kesehatan yang menjadi korban untuk kemudian diberikan penghargaan oleh dunia profesi kedokteran dan negara.

Pada akhirnya dapat penulis simpulkan bahwa ditinjau dari sisi etika dan hukum, dokter dan tenaga kesehatan berkewajiban untuk menyimpan rahasia pasien. Membuka rahasia medis merupakan salah satu bentuk pelanggaran hukum menurut Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia No 4 Tahun 2011 tentang Disiplin Profesional Dokter dan Dokter Gigi, yang pelakunya bisa dikenakan sanksi etik, sanksi disiplin dan sanksi hukum.

Ada situasi tertentu yang memperbolehkan dan mewajibkan dokter untuk membuka rahasia medis, seperti pada saat terjadinya wabah COVID19 yang mengancam kesehatan masyarakat dan yang paling penting diingat adalah tugas dokter untuk melindungi masyarakat kedudukannya lebih utama dibandingan perorangan.

Pembukaan rahasia medis harus dilaksanakan oleh petugas medis yang berwenang dan dibuka kepada instansi/orang yang berwenang pula, rahasia medis pasien tidak boleh disebarluaskan untuk konsumsi masyarakat, karena pada dasarnya rahasia medis adalah manifestasi bentuk kepercayaan pasien terhadap dokter, yang berasaskan prinsip etika confidentiality dan privacy. (*)

Komentar

Gagasan lainnya

<p>Beternak Ayam, Solusi Kemandirian Pangan di Masa Covid19<p> Senin, 01-06-2020 23:11 WIB

Beternak Ayam, Solusi Kemandirian Pangan di Masa Covid19

oleh: Yosnofrizal
Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Agam
<p>Less Plastic di Masa New Normal<p> Sabtu, 30-05-2020 21:56 WIB

Less Plastic di Masa New Normal

oleh: Robby Jannatan
Dosen Biologi FMIPA Universitas Andalas
<p>Lawan Covid19 dengan Bismillah<p> Minggu, 10-05-2020 21:09 WIB

Lawan Covid19 dengan Bismillah

oleh: dr Mela Aryati
Kepala Puskesmas Andalas
<p>Beragama Bukan Soal Berani atau Tidak<p> Senin, 13-04-2020 20:33 WIB

Beragama Bukan Soal Berani atau Tidak

oleh: Mochamad Nasrudin
Monas Inspire Institute